Friday, January 25, 2008

Chapter 5 : Bagas

Aku sedang membersihkan luka di mata kaki kiriku akibat terasah aspal ketika jatuh tadi siang dengan lap basah saat lonceng di depan pintu berbunyi di malam hari. Sumpah, aku malas berdiri untuk membukakan pintu karena kakiku pasti akan terasa sakit. Tapi karena satu penghuni rumah ini belum pulang, dengan menahan rasa sakit aku terpaksa membukakan pintu. Wajah Dian terlihat ceria saat aku membuka pintu. Di sampingnya berdiri seorang pria tinggi dengan pakaian perlente, namunagak sedikit berantakan. Aku menjauh meninggalkan pintu menuju ruang tengah untuk kembali membersihkan lukaku, mengacuhkan Dian serta pria yang datang bersamanya itu apakah mau masuk atau tidak.

Aku duduk di atas kursi dengan kaki kiri terangkat sambil membersihkan lukaku. Dian masuk ke ruang tengah dengan menggendong tas kerja yang biasa dia pakai dan sebuah tas yang ku tebak itu adalah tas laptop. Dia lalu meletakkan kedua tas itu di atas kursi di sampingku dan pergi ke dapur setelah itu. Sepertinya dia tidak memperhatikan apa yang aku kerjakan, sampai-sampai dia tidak berkomentar tentang lukaku. Paling tidak dia seharusnya bertanya, “kaki kamu kenapa, El?” Ok, untuk luka ringan seperti ini, sedikit ketidak perduliannya tidak akan membuat aku mati, ‘kan.

Dari tempat dudukku, aku dapat mendengar keributan yang dibuat oleh Dian di dapur. Dia memasukkan es batu ke dalam gelas, mungkin secara brutal, yang terdengar sampai sini. Lalu tak lama kemudian terdengar pula suara benda bertabrakkan yang menimbulkan bunyi kelontongan. Mendengar keributan itu, pria yang tadi datang bersama Dian berjalan menuju dapur melalui ruang tengah. Sebelum sampai ke dapur, dia berhenti dan menoleh ke arahku sambil bertanya, “apa yang terjadi, El?”

“tuh, Dian di dapur. Mungkin ada yang jatuh,” jawabku singkat. Aku sih maklum-maklum saja dengan segala keributan kecil yang sering dibuat Dian, karena dia tak pernah bekerja dengan tenang.

“El, kaki kamu kenapa?”

Aku mendongak dan menatap pria itu. “Terjatuh dari motor tadi siang,” jawabku singkat. Saat melihatnya, aku yakin bahwa yang aku lihat tadi siang adalah benar orang yang aku kenal. Jadi, ada harga atas luka di mata kakiku, paling tidak aku tidak memperhatikan orang yang salah.

Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa Bagas, tunangan kakakku, berminat ikut berkecimpung di dunia politik. Bagas aku kenal selama ini adalah seorang pengacara handal yang berasal dari sebuah firma hokum terkenal yang dia dirikan bersama kakaknya dengan penghasilan yang dapat dikatakan memakmurkan.

“Kamu tadi ikut kampanye?” tanyaku tanpa basa-basi.

Kedua alis Bagas terangkat tinggi. “Memangnya tadi kamu juga ikut kampanye?”

“Enggak, cuma liat pas lewat di jalan tadi. Kok bias, Gas?”

“Aku jadi juru kampanye dia. Pak Ilham sendiri yang meminta ku sejak awal dia mencalonkan diri sebagai Gubernur. Dan aku yakin, EL, dia akan menang.”

“Tentu saja karena ayah Bella sudah tersandung skandal korupsi itu,” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

Entah ini sebuah kebetulan atau memang sudah terencana sebelumnya, Bagas menjadijuru kampanye pak Ilham, lawan ayah Bella, dan Dian berkutat habis-habisan menguak skandal korupsi ayah Bella yamg tak pernah terungkap sebelumnya. Aku terusik dengan keadaan ini dan langsung mengutarakan apa yang aku pikirkan, “wow, kamu jadi juru kampanye Mr. Ilham, sedangkan Dian jadi wartawan yang terlalu berani mengungka p kasus korupsi ayah Bella.”

“Ayah Bella? Maksud kamu Pak Bambang. Memangnya Bella itu siapa kamu, El?”

“Teman kuliah aku.”

“Teman? Pantas Dian dengan mudah dapat berita.”

Aku diam tak membalas komentar Bagas. Kubiarkan saja suasana diam yang aneh meliputi kami. Tak lama kemudian terdengar lankah kaki Dian dari dapur sedang menuju ke ruang tengah “Ada yang aku tidak tahu, ya, Gas?” tanyaku serius kepada Bagas dengan suara yang sengaja kutajamkan, sesaat sebelum akhirnya Dian masuk.

“Lho, kok brdiri di situ, Gas?” Dian masuk dengan membawa dua gelas es jeruk yang dia pegang di kedua belah tangannya, lalu menyerahkan gelas yang ada di tangan kanannya kepada Bagas yang sangat menyukai minuman jeruk. “Kita ngobrol di ruang tamu aja, ya,” mereka berdua kemudian berjalan ke ruang tamu.

Selama waktu berjalan saat itu, aku memperhatikan mereka sampai mereka hilang dari pandanganku di ruang tengah, di mana ruang tamu dan ruang tengah yang dihalangi oleh tembok dinding berwarna putih tulang. Di dinding itu ada sebuah lukisan potret hitam putih besar bergambar sekelompok gadis yang duduk-duduk di bawah pohon rindang di sebuah padang rumput. Aku merasa beberapa gadis dalam lukisan itu memendangiku dengan pandangan yang terasa hidup. Seorang di antaranya berambut keriting dan bermata besar , tampak sedang melotot ke arah ku. Aku langsung memalingkan mukaku, lalu berdiri dan pergi ke kamar tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Aku harus melawati ruang tamu agar bias sampai ke kamarku. Di sana aku melihat Dian dan Bagas duduk bersebelahan, di kursi kayu dengan ayaman rotan pada dudukan dan sandaran. Sekilas, sambil lewat, aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Singkirkan dia dan semuanya akan beres,” Kata Bagas.

“Pilkada tinggal lima hari lagi, Gas, aku harus cari bukti ke mana?” keluh Dian.

“Kamu kan wartawan hebat, pasti gamapng dapat buktinya.”

“Bukan masalah gampang atau tidaknya, tapi belakangan banyak orang aneh yang membututi dan menyulitkan ku.”

Aku masuk ke dalam kamar dan menutupnya rapat-rapat tanpa menguncinya. Di sini aku tidak dapat lagi mendengar apa yang dibicarakan Dian dan Bagas, ang terdengar hanyalah deru motor dan mobil yang sesekali melintasi jalan di depan rumahku. Melalui jendela kamar yang sengaja tidak aku turunkan gordennya, aku menatap kosong kea rah jalan yang tak kunjung sepi walau malam sudah selarut ini. Aku merenung dalam pikiranku, ‘apa yang sebenarnya terjadi?’.

*****

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang