Day 2 of #30DayStressReliefJournalPrompts

What's going good in my life right now is...

My pocket.

Finally I have a job after almost 2 years being jobless.
Saat sedang menuliskan jurnal ini, saya sedang berada di momochi cabang cemara Banjarmasin, sedang menunggu seorang teman dari kantor lama.

Day 1 of #30DayStressReliefJournalPrompts

source : via 

Appreciation Day : I'm thankful for what I have because....
God is very good to me for everything I have. 

Saya ini punya apa aja ya? Helikopter punya, rumah mewah punya, cottage punya, merci? gak punya sih, tapi bantley sih ada sama mustang. Jalan-jalan ke Eropa sudah pernah semua kecuali ke Turki, soalnya pas lagi konflik sih di sana kemaren pas saya lagi tur erovah. Akhir tahun ini saya mau umroh, walaupun banyak yang nyinyir kenapa umroh nya belakangan dari pada yuroop. Duh, namanya juga rejeki duluan ke sana. 

'Tok-tok-tok', terdengar bunyi ketukan dari langit-langit kantor.

Seketika itu juga bulu kuduk saya merinding. Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan saya hanya tertinggal sendiri di kantor. Deadline yang mengharuskan semua pekerjaan saya selesai sebelum libur panjang lebaran menuntut lembur yang terus terangkai sejak awal pekan kemarin.

Dengan bunyi mencicit, pintu kantor perlahan terbuka. Suasana tegang membuat proses terbukanya pintu seakan melambat bagai slow motion di film. Dari balik daun pintu, nampak sebuah kepala menyeruak masuk.

"Lagi ada di mimpi siapa, lo, Met?"

DUNG DUNG TAAAAKKKH

Eh, iya, ya. Duh, lagi rame baca mimpi orang sih, sob. Ya maafkeeun lah. Maaf ya *** (coba tebak *** itu apa? buahahahaa)

Kalo ada yang butuh ember buat muntah sama paragraf pertama silahkan ke belakang dulu deh. 

Hehehe.. Hidup saya memang bukan seperti yang tertulis di paragraf pertama. Apa yang saya miliki juga gak ada sama sekali di sana. Kalau mau nulis apa yang saya miliki, kayaknya bukan sesuatu yang layak dipamerkan juga. Gak ada yang mahal-mahal amat, tapi kalo ada yang lucu-lucu itu memang sudah seharusnya, karena selera saya itu. Selera loh yaaa... tiap orang bisa saja punya selera berbeda. Tapi walaupun apa yang saya punya cuma begitu-begitu saja, tetap Alhamdulilah. Rasa syukur harusnya bisa diamalkan tanpa harus memandang bentuk, fisik, nilai, langka. Berada pada kita saja sudah patut rasanya untuk disyukuri. 

Ya Allah, saya berterima kasih untuk segalanya. Apa yang saya miliki sekarang pastinya sudah berada pada level "SUDAH SEMESTINYA BEGITU" Disamping faktor takdir yang kayaknya gak bisa diganggu gugat, tapi apa yang ada pada saya sekarang sudah melalui jalannya masing-masing. Mereka sudah datang dengan indahnya di kehidupan saya, baik itu sesuatu dalam bentuk fisik atau kepuasan dalam memiliki sesuatu. 

Apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, baiknya dapat kita ambil pelajaran dalam kehadirannya. Terima Kasih Allah, karena apa yang engkau berikan pada saya berbeda dengan yang tertulis di paragraf satu. Harap bersabar, ini ujian. Ujian buat saya dan ujian buat si paragraf satu. Ujian karena saya harus ekstra sabar karena macam-macam pikiran, ujian buat dia karena bagi dia mungkin orang-orang lain cuma bisa nyinyir jadi harus dipamerin biar mereka lebih termotivasi & produktif. Ya elaaah, ngapain juga ngurusin apa yang dia punya ya. Biarlah berlalu, dianya juga sekalian. Ups.. Astagfirullah..

Udah ah, ini yang ada ntar malah nyinyir. 






When You're Gone


Besok 25 hari sudah kepergian dirinya dan segalanya masih terasa berat. 
Hasil gambar untuk mom daughter pinterestSebagai orang yang percaya bahwa segala hal memiliki siklus masing-masing, entah mengapa siklus kehilangan ini belum terlihat kapan akan berakhirnya. 
Setiap kali bangun di pagi hari, bagai dipaksa oleh kehidupan untuk mempercayai kenyataan tentang kepergiannya.  
Selama ini saya beranggapan bahwa kepergiannya kali ini tak ada bedanya dengan kepergiannya ke suatu tempat. Kami terpisah jarak yang jauh tanpa adanya alat komunikasi. Apa bedanya perpisahan yang seperti ini dengan perpisahan-perpisahan orang zaman dulu kala sebelum adanya hp, surat menyurat. Suatu hari kita akan bertemu lagi, dia akan pulang ke rumah dan kami akan menjalani hari-hari bersama seperti biasa.
Entah hal menakjubkan apa yang dilakukan oleh mereka yang lebih dulu ditinggal pergi. Apa yang mereka lakukan hingga mereka mampu bertahan?
Di satu sisi saya menyadari bahwa bertahan dan terus melanjutkan hidup adalah satu-satunya hal yang bisa dan harus dilakukan. Ada kehidupan yang harus dijalani.
Rasa sedih dan kehilangan ini hanyalah perasaan sesaat yang lambat laun akan perlahan menguap. Tapi seperti halnya uap, dia membutuhkan panas yang sangat atau dingin yang sangat sampai akhirnya menjadi uap.
Kenangan selama 27 tahun kebelakang, terlebih setahun belakangan, belum bisa terhapus dalam 25 hari ini. Banjir air mata, tawa dari orang-orang yang mencoba menghibur, kesunyian, keramaian, tak ada mempunyai kemampuan untuk menghapus perasaan asing akan kehilangan ini.
Mengapa rindu itu munculnya harus berbarengan dengan kehilangan?


Review Buku : Please Look After Mom

Buku hasil buruan di bazar Gramedia ; Please Look After Mom, Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya, Waktu Pesta Bersama Cinta

Cerita sampul belakang : 
"Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tidak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.
Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok ibu selama ini, perasaaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya."

Buku ini merupakan sebuah karya dari Kyung Sook Shin, penulis wanita asal Korea Selatan. Menceritakan tentang kisah sebuah keluarga yang mendadak harus menerima kenyataan hilangnya sang ibu di stasiun Kereta Seoul. Cerita dalam buku ini dibagi dalam empat sudut pandang; anak perempuan pertama, seorang penulis novel, sangat menyesal karena merasa tak bisa merawat ibunya dengan baik saat sakit; anak sulung laki-laki yang berprofesi sebagai karyawan perusahaan properti, merasa tak bisa memenuhi harapan ibunya setelah apa yang sudah dilakukan oleh ibu selama ini kepadanya; ayah, suami yang menyadari bahwa selama ini tidak memperlakukan istrinya dengan baik; Seekor burung, refleksi dari ibu yang mengenang kembali beberapa hal yang sudah terjadi dalam hidupnya. 

Saya membeli buku ini ketika iseng mampir ke Gramedia Veteran Banjarmasin yang ternyata sedang ada bazar buku di halaman parkir motor. Setelah mengamati beberapa tumpukan buku, mata saya langsung tertarik pada sebuah buku dengan sampul sederhana bergambar detail daun berwarna hijau dengan huruf hangul korea terpampang di sampul depannya. Berhubung saya ini orang yang sangat gampang terpikat hanya dengan sebuah sampul, pertimbangan untuk membelinya pun hanya berlangsung secepat kilat, hehehe... Kemarin beli pas bazar harganya cuma Rp25.000 looh..

Saya belum terlalu banyak membaca karya sastra dari Asia Timur. Beberapa yang sudah pernah saya baca seperti Penari-Penari Jepang karya Kawabata Yasunari; Kami Anak-Anak Bom Atom karya Osada Arata, yang mana kedua buku tersebut sama-sama berasal dari Jepang. Tapi entah mengapa, saya merasa sepertinya hawa-hawa tulisan dari asia timur ini mirip-mirip, ya. Dominan dari segi deskripsi, kata-katanya tidak berbelit-belit, dan mengalir dengan sangat lancar.

Dari segi cerita, alur yang diangkat dalam buku ini adalah maju-mundur-cantik (eeee... emangnya si incess) Intinya buku ini bercerita tentang hari dimana sebuah keluarga tiba-tiba harus menghadapi kenyataan hilangnya sang ibu, dan dimulai pada hari itu berbagai macam usaha pencarian terus dilakukan. Dan selama masa pencarian ini lah memori dari masing-masing pihak dalam keluarga tersebut bermunculan. Konflik yang terjadi dalam cerita ini pun sepertinya sudah biasa dialami oleh kita semua. Hanya saja bila dalam kehidupan nyata kita lebih fokus pada ego kita masing-masing yang hanya memikirkan konflik tersebut dari sudut pandang kita, sedangkan dalam buku ini, kalau menurut saya pribadi sih, lebih membuka sudut pandang baru dari pihak lain. 

Yang paling saya sukai dari buku ini adalah bagaimana sang penulis sukses menggambarkan perasaan seorang ibu. Perasaan yang muncul ketika anggota keluarga menganggap sesuatu adalah hal kecil, tapi bagi ibu itu merupakan hal penting. Memanglah benar, seperti apa yang diungkap oleh Path (yang entah ditulis oleh siapa) ketika saya membuat status Path dengan reading this book bahwa sudut pandang kita pada seorang Ibu akan berubah setelah membaca buku ini.

Karena buku ini telah berhasil membuka pandangan baru saya tentang seorang ibu, saya pastikan bahwa buku ini patut untuk direkomendasikan untuk dibaca oleh semua umur, khususnya untuk yang berstatus anak dan suami.

Untuk dua buku lainnya yang juga saya beli pas bazar, nanti saya ulas juga kalau sudah selesai baca. Saya itu ya, kalau ketemu buku bagus bacanya gak pernah sebentar, pasti makan waktu, karena biasanya buku bagus bakal membuat saya memikirkan hal-hal yang terkandung dalam buku tersebut. Bukan jadi baper sih, tapi bawa pikiran, hehehehe...

Sesal - Sesal Tiada Arti

Duh, mupengnya liat profil picture teman majang jatah bulanan dari kantor. Kemudian ngayal, 'andai aja kerja di situ.' 
Sesal-sesal tiada arti. Goler-goler patah hati.
Sebenarnya saya gak harus memasukkan yang satu ini ke dalam list hal-hal yang tak dapat saya raih. Adakah selain saya yang punya list semacam ini? 😂 
Saya harusnya berani membangkan diri sendiri karena sudah dapat mempertahankan prinsip. Prinsip opoo toh 'ndo.. Suatu prinsip yang insha Allah semoga selalu saya jaga hingga akhir hayat. Prinsip bahwa pekerjaan yang baik  gak cuma halal dari uangnya aja, tapi asal muasal gaji kita, juga kontribusi tempat kerja kita kepada dunia. 
Kalau saya kekeh menolak kerja di perusahaan yang identik dengan sistem riba, kenapa saya bisa tergoda dengan perusahaan yang sudah terkenal dekat dengan penganiaya umat muslim? Entah itu HOAX atau tidak. Tapi bergubung saya diperingatkan oleh ibu lebih dulu tentabg mereka, jadi lah saya mundur duluan sebelum berjuang agar bisa kerja di sana. Padahal cari kerja kesempatannya jaman sekarang kaya nyari jarum di tumpukan jerami. Untung masih ada Allah yaa 😇 jadi sing sabaaar

Untuk Abah, The Gentleman

Dear Abah,
Pagi ini ulun cuma bisa masak telor dadar. Makasih karena sudah mau makan dengan lahap walau hanya dengan lauk sedikit ini. Makasih karena gak pernah protes dengan masakan ulun sehancur apapun itu. Ulun memang belum sehebat mama dalam dunia masak-memasak. Belum bisa memasak masakan kesukaan abah setiap hari. Tapi walau begitu abah mana pernah protes. Huhuhuu sebagai anak ulun merasa sangat bersyukur. Selama ini abah gak pernah terlalu sering meminta masakan apa yang ingin dimakan, semuanya selalu terserah kami, para wanita.
Bah, ulun bersyukur atas rahmat Allah Yang Maha Adil. Selama mama sakit, Alhamdulillah kesehatan abah selalu terjaga. Abah yang gak pernah sama sekali bersentuhan dengan dunia rokok benar-benar membuktikan sehatnya hidup di hari tua. Biarlah rambut putih abah itu menjadi ciri khas abah, walau abah sering protes karena di umur sekian seharusnya rambut abah belum seputih itu.
Bah, sehat-sehatlah selalu. Agar bisa menemani mama menjalani hari tua hingga menjadi kakek dan nenek nanti. Abah harus panjang umur hingga bisa melihat ulun sukses dengan usaha ulun. Ulun pengen semua pengorbanan abah membesarkan ulun selama ini terbayar.
Bah, ulun bersyukur lahir sebagai anak abah. Selama ini abah sudah menunjukkan bagaimana cinta sejati itu memang benar-benar eksis. Mungkin tak se-fairy tale dongeng-dongeng, apalagi semulus jalan tol. Bahwa cinta sejati bukan sesuatu yang tanpa gejolak, tapi sesuatu tau bagaimana cara meredamnya. Bukan sesuatu yang selalu berjalan memenuhi keinginan, tapi sesuatu yang mau menerima. Bahwa cinta bukan sekedar sekedar kesempurnaan fisik. Semoga ulun nanti bisa mendapatkan pria se-gantleman abah yaaa... Aaaamiin. Hihihiiiii



*Ulun = Saya 

Untuk Wanita Yang Tak Pernah Lelah Berjuang

Ma,
Apa kabarmu hari ini? Haha, aku terlalu basa-basi untuk bertanya tentang kabarmu, padahal hampir 24 jam kuhabiskan bersamamu.
Aku bersyukur hari ini pegal-pegal ditubuhmu sudah jauh berkurang. Mendadak aku merasa memiliki keterampilan memijat yang jauh tersembunyi dalam diriku. Padahal mungkin hanya karena memang jatah sakitnya sudah seharusnya berkurang.
Ma, kau hampir membuatku ketakutan lagi tadi malam. Saat kau bilang kau merasa tak enak karena jantungmu berdebar cepat, otakku langsung bekerja secara multitasking untuk memikirkan apa-apa saja yang mungkin terjadi dan apa yang harus aku lakukan.
Ma, aku mungkin hanya bisa panik, hanya bisa khawatir melihat apa-apa yang harus kau alami tanpa pernah kau inginkan. Aku mana mungkin merasakan sesakit apa sakit yang kau rasakan, seberat apa pengobatan yang harus kau jalani ini.
Aku hanya bisa diam melihat rambut rontokmu dan berkata bahwa ini sudah biasa, tak berambut juga tak apa, masih bisa ditutup jilbab. Tapi mana aku tahu perasaanmu sesungguhnya. Saat kecil, aku sering bereksperimen dengan rambutku ini. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu yang dengan tenang melihat rambut-rambut yang jatuh di bantal, di baju, di dalam jilbab saat di buka, sangkut di sisir saat menyisir rambut.
Aku hanya bisa bilang jangan lupa minum obat dan mengingatkanmu untuk tidak membiarkan perut kosong ketika kau merasa mual. Aku hanya bisa berkata bahwa ini hanya sementara ketika ada kuku-kukumu mulai menghitam. Dan seringkali aku mengemukakan teori yang entah datang dari mana mengenai sakit-sakit yang kau alami untuk menenangkanmu.
Ma, aku tak pernah berhenti takjub mengagumi perjuanganmu melawan penyakit yang cerewet ini. Tapi aku yakin, sel-sel kanker yang cerewet ini suatu saat pasti akan bungkam dengan kekuatan doa yang selalu aku panjatkan pada Tuhan.
Tetaplah semangat ma, kita sudah sering melewati ini semua. Mereka tak ada apa-apanya dibanding dengan semangatmu. Tetaplah semangat untuk melihat anak-anakmu ini sukses, hingga kami mampu memberikanmu tentara-tentara kecil yang akan merepotkanmu di hari tuamu nanti.


#30harimenulissuratcinta hari ke - 1 DEAR MY PAST

Dear my past,
Saya gak tau pasti alasan kenapa tiba-tiba saya merasa perlu meletakkan masa lalu di hari pertama menulis di #30harimenulissuratcinta ini, hanya perasaan ingin saja. Mungkin tidak lebih dari itu. Perasaan yang sama seperti apa yang saya alami di masa lalu, hanya ingin saja.
Hanya ingin saja. Iya.
Mari kita bicara dalam konteks ‘jatuh hati ala anak ABG’. Wahai kamu, beberapa orang dari masa lalu. Beberapa? memang sebanyak itu kah? Hahahaa. Sebenarnya saya tak sesukses itu. Seperti saya bilang sebelumnya, perasaan yang dulu saya rasakan, saat ini saya sadari hanya sebatas ingin saja. Ingin kenal sama kamu, ingin dekat sama kamu, ingin jalan sama kamu, ingin berbagi cerita sama kamu. Alasan kenapa saya ingin melakukan semua itu dengan kamu juga gak berdiri dari tiang-tiang kokoh. Hidup saat masih remaja memang se-simple itu, semua dilakukan hanya karena ingin? Tapi beberapa moment gak pergi semudah keinginan saat datang.
Dih, jangankan moment, sekarang saja saya masih menyimpan beberapa barang dari zaman SD. Saya tuh suka banget nyimpan barang-barang yang saya suka. Jadinya gini deh, kolektor masa lalu kaleee. Hedeh.
Ada beberapa saat saya masih suka buka facebook & twitter kamu, mungkin sekitar satu atau dua bulan setelah saya menyadari moment kita harus diakhiri. Kemudian saya biasanya tak akan pernah membukanya lagi.
Setiap perubahan membutuhkan waktu. Butuh waktu bagi saya untuk belajar menerima. Andai ini suatu mata pelajaran, mungkin nilainya F, saya kudu ngerekos 3 semester pendek baru bisa A. Kudu sering-sering curhat sama teman, curhat yang muka saya ketawa tapi hati saya nangis tak berair mata. Kemudian setelah itu saya diam seribu bahasa gak mau cerita apa-apa lagi. Hidiiiiiih. Kok sekarang berasa jijay gini ya. Hahahahaa
Tapi sekarang saya cuma mau bilang makasih sama kamu. Danke karena udah ngasih warna-warna abstrak di kehidupan saya. Saya yang sekarang gak mungkin jadi seperti ini jika tanpa kalian. Emang sekarang gue orang yang gimana sih ya? Entahlah hahahahaa… Mungkin saya pernah konyol hanya karena pernah suka sama kamu. Hingga mungkin sekitar dua sampai lima tahun yang lalu saya bakalan ngumpet atau pura-pura gak liat kalo ketemu kamu. Mellow dengan soundtrak lagunya Hard to breath dari Renee Cassar. Tapi saya sudah meyakinkan diri saya kalo kamu tuh cuma moment di masa lalu, masa depan saya gak butuh kamu, karena masa sekarang saya bisa berdiri tanpa kamu.
Saya pengen ketika suatu saat ada kesempatan untuk kita berjumpa, kita bisa saling sapa, bersalaman, tanya kabar masing-masing, ketawa-ketiwi cantik, seperti ituuuh. Just face it like a lady. See you soon.



Selamat Hari Kartini, Mama

Hari ini, di hari Kartini yang entah telah diperingati untuk keberapa kalinya, kami menghabiskan sepanjang siang di rumah sambil menonton televisi dan tiduran, sedang saya bermain internet. Saat memasuki jam-jam tanggung untuk makan siang dan sudah lapar setelah makan pagi, saya mebuat omelet mie seperti yang sudah sering saya lakukan. Omelet mie seperti sudah menjadi senjata pamungkas pertolongan pertama pada perut kriuk kriuk.

Kami menikmati siang ini dengan makan sepiring omelet sambil menonton drama rohani dengan alur cerita yang sering bikin saya garuk-garuk kepala. Ibu saya memang suka sekali nonton drama jenis ini karena memang tak punya pilihan banyak drama yang yang jauh lebih baik. Sebagai anak yang berusaha menjadi anak yang baik, saya tak pernah protes. Kebersamaan ini mungkin jarang saya miliki ketika masih bekerja seperti dulu. Makan memang menjadi mediator kebersamaan paling ulung dalam keluarga. Kami makan sambil mengobrol tentang hal-hal ringan, yang bahkan tak perlu, dan saling menertawakan. Momen seperti inilah yang saya nilai sebegai rejeki terbesar pemberian Tuhan.

Tak banyak yang tahu bahwa ibu saya memiliki nama yang sama dengan pahlawan emansipasi wanita yang pemikiranya selalu kita rayakan setiap tanggal 21 April. Entahlah, apa yang dipikirkan dan diharapkan oleh kakek nenek saya saat memberikan nama tersebut pada ibu. Yang saya tahu, nama tersebut bukan nama kelahiran ibu. Sebelumnya ibu punya beberapa nama, tapi konon namanya kurang cocok sehingga  ibu sering sakit jadi ibu beberapa kali diganti nama hingga memiliki nama yang ‘mungkin’ pas sampai sekarang.

Apa ada diantara anda yang saat saya sebut nama ibu saya kemudian langsung mencari kemiripan sifat atau wajah antara dua orang bernama sama ini?

Jika mencari kesamaan, sudah pasti mereka sama-sama perempuan tapi ibu saya lahir di bulan Desember. Ibu saya orang Kalimantan, bukan Jawa, dan sejauh garis keturunan yang saya tahu sama sekali tak ada darah Jawa. Dari segi umur ibu saya lebih berumur panjang. Di umurnya yang ke-45 tahun ini, walau sering sakit-sakitan, ibu Alhamdulillah masih bertahan. Mereka berdua memang sama-sama tangguh. Jika R.A Kartini berpikiran bahwa perempuan berhak mendapat perlakuan yang setara dengan laki-laki, maka ibu saya berpikiran untuk tak hanya jadi perempuan yang hanya bisa berpangku tangan. Kemandirian ibu memang harus jadi ‘tempat ngaca’ saya di masa depan. Setelah menikah, ibu berjuang jatuh bangun hanya bersama abah tanpa meminta bantuan orang tua mereka.

Tapi Kartini itu sering terbaring lelah akhir-akhir ini. Faktor usia. Saya hanya menanam pikiran itu atas nama rasa lelah dan sakit yang dia derita. Terlalu mengerikan jika harus memikirkan penyakit-penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dia memang sudah sampai pada suatu saat untuk beristirahat lebih banyak.

Seperti yang pernah disebut dalam sebuah artikel, ketika memasuki usia tua maka orang tua kita ingin lebih ditemani. Benar juga, saat seusia saya kita masih sering berkumpul dengan teman-teman. Ketika sudah tua nanti, akan datang saat kita sudah tidak tahu dimana keberadaan teman-teman kita. Hanya keluarga yang selalu ada dan tetap berada di samping kita, apa pun keadaannya.

Demokrasi Move On

Ih, bentar lagi 9 April, udah pada punya pilihan buat dicoblos belum?? kalo kata lagu alm. Chrisye, ‘jangan pernah memilih, aku bukan pilihan,’ haaa kampanye udah ada yang nyanyi lagu ini belum?

Pemilu legislatif udah dekat, tapi saya sih belum punya caleg pilihan. Calon apa sih yang saya punya?? *upss, makna terselubung*. Ok, fine, kembali fokus. Pemilu tinggal hitungan hari, iklan di tipi semakin kejar tayang aja dong… Berakibat mulut gue yang gatal pengen ngomentari. Ngomentari iklannya doang gak papa kan? Udah gak jaman main tangkap-tangkapan lagi kan sekarang? Aku kan atuuuuuuuttt… Ngapain atut? Atut udah dipenjara.

Beberapa iklan udah tampil jauh lebih kreatif. Setidaknya menghiburlah dengan lakon pemerannya yang lucu-lucuan dan dari segi visi misi tersampaikan. Ada juga iklan yang tampil dengan semangat menggugah yang agak menghipnotis dan berpeluang membuat saya hampir berjalan tanpa ragu ke TPS dan mencoblos partai mereka. Dan masih ada aja partai yang minta pengakuan atas keberhasilan mereka. Kerja itu bukannya juga ibadah? kalo kerjaannya minta dipuji, riya gak? Apa saja yang sudah kita kerjakan, itu bagian dari masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu, itu hanya untuk dikenang. Karena kita hidup untuk menjalani hari esok, maka sebaiknya move on saja lah.

Move on? yup, sepopuler kata move on itu sendiri yang jadi jargon generasi muda yang mencoba bebas dari kegalauan masa lalu. Kalo menurut hitungan manusia sih, dari segi umur dan angka peluang hidup, generasi muda ini lah yang akan menjalani kebijakan yang akan datang. Intinya generasi tua gak bakal selama generasi muda.

Kembali ke iklan. Saya hanya mengomentari ini dari sudut pandang seorang penonton. Terdapat beberapa iklan yang bikin saya ber-capek deeeeeeh… menggelitik. Ada yang berencana membawa Indonesia kembali menjadi macan Asia. Kapan ya Indonesia pernah jadi macan Asia? Waktu itu sih saya pertama kali dengar istilah macan Asia pas kelas 4 SD, atau 5, 6, atau kapan yaa.. berarti sekitar 15 tahun yang lalu, maybe? Dan waktu itu pun terdapat kata ‘pernah’, berati kejadian jadi macan Asia nya sebelum itu lagi dong. Wah, berarti generasi saya belum ngerasain pak kaya gimana rasanya Indonesia jadi macan Asia. Lha kok macan sih pak? kenapa gak Singa aja? Atau Ceetah yang larinya cepat. Saat ini tuh kita perlu membalap Jepang terlebih Korsel yang perkembangannya kok terasa ngebut amat pak. Jauh mimpi ku pak, nunggu loading internet aja kadang bisa dibawa bikin kopi dulu. Kadang saya malah bawa sholat sama ngaji dulu saking saya itu cuma bisa minta ke Tuhan aja supaya koneksi internet ini bisa cepat. Atau jadi serigala aja pak? Serigala berbulu domba. hahahahhaa. Atau kenapa kita tidak menjadi garuda saja pak? Garuda Indonesia, Garuda Asia, terbang tinggi melintasi bumi. *Awas kalo ada yang sampe ngutip Garuda Indonesia Garuda Asia ini (–___-“) *

‘Enak jaman si kuning kan’. Si kuning sama yang mau bikin Indonesia kembali jadi macan Asia ini sebenarnya dulu bukannya berasal dari kubu yang sama ya? Kenapa kalian mengungkit kegalauan masa lalu itu kembali lagi… Kalau liat film jaman dulu di channel Festival, kecuali alam yang masih asri dan jalan yang macet, gak ada yang bikin pengen kembali ke jaman dulu.  Kalau dulu hidup asal bisa makan saja sudah cukup. Jauh sebelum ada iPhone, android, samsung, apple, hyundai, jauh sebelum Syahrini pamer dari ujung rambut sampai ujung kaki barang branded semua, sebelum para artisnya pakai supercar, sebelum ada instagram yang mempunyai satu pemilik akun super sensitif seluruh Indonesia. Tegar aja tau pak, bahwa aku yang dulu bukanlah yang sekarang…..

Jadi bapak mau bikin negara kita maju atau sejahtera? Atau jadi negara yang mandiri aja dulu? Karena kalo ngomongin negara maju, berarti kita ngomongin puluhan tahun yang akan datang, pak. Bisa jadi saat Indonesia sudah maju saya aja malah sudah beristirahat di bawah tanah. Jangan-jangan saking majunya Indonesia di kubur saya malah berdiri apartemen atau pusat perbelanjaan yang malam jumat bukannya ngaji malah ajep-ajep. Jangan heran kalau arwah saya bisa jadi sekum koordinator demonstrasi arwah pencari ketenangan alam barzah.

Kalau bapak pengen Indonesia seperti yang dahulu, yang katanya jauh lebih nyaman sejahtera atau entahlah saya ingatnya cuma zaman krismon, sama aja sih kaya saya yang pengennya Liverpool kembali berjaya. Kehidupan ini laksana roda yang berputar, seperti bola juga. Ada saat kita berjaya, ada saat kita terpuruk, ada saat kita bangkit lagi. Saya aja pak sebagai fans Liverpool, setahun yang lalu masih merasa terpuruk dan bertanya-tanya kapaaan Liverpool bisa masuk 4 besar lagi. Setahun yang lalu kami masih di bully pak, dan sekarang baru lah kami bisa tersenyum kembali. Btw, kalo ngomongin negara maju, kemajuan negara juga tercermin dari kemajuan sektor olahraganya. Negara maju mana yang gak ada timnya di Piala dunia? Olimpiade juga medali mereka banyak. Pendidikan mereka juga posisi-posisi atas. Ya ampun, banyak bingits ya PR bapak-bapak ibu-ibu. Kita memang benar-benar harus move on

Oiya, ada satu hal lagi sih yang bikin saya bingung pemilu kali ini. Ada partai yang sudah menetapkan capres dan cawapresnya, ada juga yang baru sekedar mengusung beberapa calon. Yang jadi masalah adalah capres yang saya taksir buat jadi Presiden baru sebatas bakal capres. Saya kan jadi bingung. Jika saya memilih partai A, tetapi ternyata partai A tidak meng-goal-kan bakal capres tersebut atau kalah dalam koalisinya nanti, berapakah peluang negri impian saya tercapai? Pemilu legislatif kita akan menentukan jumlah suara wakil rakyat. Koalisi parta aja masih gak jelas yang mana bakal gabung sama yang mana. Gimana ntar kalo presidennya kalah suara sama koalisi mayoritas, masa pemerintahan kita shut down kaya di Amrik? Ketidak jelasan beberapa partai atas siapa capres dia usung bikin bingung juga sih. Sebagai rakyat yang cuma pengen menggoalkan capres nya aja, saya jadi dilema sih. Misal milih partai yang itu, kalau ternyata bukan bakal capres yang itu terpilih gimana?

Ribet ya bok demokrasi. Apapun, siapapun yang terpilih, saya berharapnya mereka bisa peduli sama bangsa ini deh. Sayangnya gak ada negeri maju idol, jadi gak bakal ada jalan instan buat negara ini menjadi negara maju, sejahtera, aman, sentosa. Yuk, move on, moving forward. Jalan menuju Indonesia sejahtera masih panjang. Gak bakal cukup lima tahun (sekali periode), sepuluh tahun. Walau presiden kita cuma bisa menjabat dua kali periode, berarti bakal ada kebijakan yang berbeda tiap presiden baru, baiknya mereka bisa meneruskan pergerakan perkembangan bangsa ini. Belajarlah jadi masyarakat yang tidak terbuai dengan janji muluk atau uang soekarno hatta yang mengunjungi anda di pagi buta pemilu. Bukan pemimpin yang membuat negara ini maju, tapi rakyatnya. Pemimpin dan wakil rakyat itu hanya menjadi perantara keinginan rakyat. Mereka membuat undang-undang dan segala keputusan pemerintahan berdasarkan apa yang rakyat butuhkan (normalnya). Jadi sebagai rakyat, marilah kita kreatif menjadi rakyat, jangan cuma mengeluh dan merengek. Kita belum sampai pada tahap rakyat yang bisa begitu saja menyerahkan segalanya pada pemerintahan.

 

*tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung pihak manapun yaaaa…. Open-mouthed smile