Monday, January 21, 2008

Chapter 4 : Yang Ku Duga dan Yang Ku Lihat
Setelah hujan reda, aku pulang ke rumah dengan menaiki motor matic kesayangan ku. Sebenarnya, tak ada yang tahu bahwa diam-diam aku member nama motor ku ini si Putih. Nama yang biasa, hanya karena warna motorku itu putih. Jalanan masih basah dan terlalu licin intuk mengebut saat ini. Aku menjalankan motorku secara pelan sehingga aku dapat memperhatikan aegala sesuatu yna dapat menarik perhatiaanku saat itu. Poster dan spanduk pesera pilkada terpasang di berbagai tempat. Di sebuah baliho yang berdiri di pembatas jalan, ak melihat wajah ayah Bella tersenyum, namunwajahnya kotor dengan noda-noda yang tidak seharusnya ada di situ. Aku tidak tahu noda apa itu dan perbuatan siapa, mungkinkah ini perbuatan orang-orang yang membencinya? Mungkinkah mereka membecinya karena dipicu berita yang ditulis Dian? Setelah melewati baliho itu, ak mencoba untuk tidak memperdulikannya, namun mengacuhkannya malah mengacaukan pikiranku.
Kita membutuhakan pemimpin yang dapat Kita percaya
Kita butuh pemimpin yang jujur

Aku baru tahu ada yang berkampanye di daerah sini, tidak jauh dari tempat aku mengenderai motorku, di sebuah lapangan kosong. Jalan yang melalui lapangan itu jadi macet karena banyak orang yang berdiam di pinggir jalan untuk menyaksikan kampanye.
Kita butuh pemimpin yang bias mengatur provinsi Kita dengan baik
Si juru bicara kampanye terus berbicara keras melalui megaphone mengucapkan kalimat-kalimat khas kampanye yang dapat membujuk siapa saja agar memilih orang yang dikmpanyekan. Bagi ku itu tidak berarti apa-apa karena setiap orang yang berkampanye selalu seperti itu, berjanji manis sebisa mungkin dan menepatinya kalau bisa. Diam-diam aku mendengarkan visi dan misi yang ditawarkan oleh si calon gubernur walaupun aku tidak tahu siapa yang berkampanye di situ. Kemudian saat aku melintas di depan lapangan tempat kampanye tersebut berlangsung, aku dapat mengetahui siapa yang berkampanye di lapangan itu. Kandidat calon gubernur lain, lawan ayah Bella, sedang berdiri di tengah panggung menyerukan visi dan misinya. Namun ada hal lain yang menarik perhatianku. Aku seperti mengenal sesosok pria yang berdiri di samping calon gubernur dengan pakaian perlente yang terlihat sangatpas di tubuhnya yang tinggi. Dia mengepalkan tangannya ke atas di sertai dengan sorak-sorai peserta kampanye. Aku memicingkan mata, mencoba mengenalinya dan meyakinkan diriku sendiri bahwa dia adalah orang yang benar-benar aku kenal.
BRUKK.
Aku tersungkur jatuh di atas aspal dengan posisi motorku menindih kaki kiriku. Untungnya aku jatuh tidak mengenai motor di sampingku yang dikenderai seorang ibu tua. Kalau aku jatuh mengenainya, mungkin dia akan jatuh ke samping dan mengenai pengendara motor yang ada di sampingnya, sampai seterusnya. Aku mencoba berdiri dan kembali menaiki motorku sendiri. Betapa malunya aku saat menyadari bahwa tadi aku menabrak mobil yang berjalan pelan di depanku gara-gara aku sibuk berusaha mengenali pria perlente itu. Sudahlah, dan aku berusaha untuk memberikan ekspresi yang tidak berlebihan kepada orang di sekitarku yang dapat ku rasakan sedang memandangi ku. Sebisa mungkin aku mencoba untuk cepat-cepat keluar dari kemacetan ini dan aku memutuskan memikirkan pria perlente itu di rumah saja bersama Dian nanti.
*****

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang