Monday, January 21, 2008

Chapter 3 : Darah Persaudaraan
Hari ini aku sama sekali tidak bertemu dengan Bella. Aku tak melihat batang hidungnya sejak tadi pagi sampai kuliah habis di siang hari yang berhujan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkin Bella sakit atau dia ada urusan penting yang sangat tidak bias ditinggalkan sehingga dia tidak masuk hari ini. Aku sempat berpikir Dian memuat sebuah atrikel tentang apa yang aku bicarakan tadi malam, dia bias jadi tidak siap namanya disebut-sebut.
Aku sedang asyik menikmati mi ayamku di kafetaria kampus bersama Metha dan Ale, teman baik ku, ketika Rian datang sambil melambaikan koran ke arah ku. Dia mendorong Aria, menyuruhnya bergeser ke samping agar dia bias duduk berhadapan dengan ku. Aku berlagak saja tidak peduli dengan kedatangannya. Aku sudah tahu dia pasti akan membahas artikel tentang skandal calon Gubernur yang ditulis Dian di koran itu.
“Kakakmu dibayar berapa, sih, sampai dia mau menulis artikel tentang ayahnya Bella?” kata Rian sambil membuka koran di hadapanku lau menujuk-nunjuk sebuah artikel dengan judul, ‘Calon Gubernur Gelapkan Pajak Penghasilan’.
Aku segera merebut koran itu dari Rian dan membaca seluruhnya isi artikel tersebut. Inti tentang artikel itu kurasa aku sudah tahu sejak tadi malam, namun yang paling menarik minat ku saat ini adalah mencari tahu apa Dian memuat apa yang aku ceritaka tentang Bella tadi malam. Ternyata Dian tak memuat sedikit pun tentang Bella. Ada rasa bersyukur dalam hati ku, sungguh aku tidak ingin ada masalah yang timbul antara kami berdua. Suadah cukup perasaan seperti kemarau panjang yang selalu terasa saat kami berdekatan.
“Pilkada sudah dekat dan beritanya semakin menjadi-jadi.” Lanjut Rian.
“Inikan kebenaran yang harus diungkapkan dia belum jadi Gubernur saja, sudah banyak merugikan Negara, apalagi kalau jadi Gubernur.” Kata ku membalas komentar Rian.
“tapi, El, hal ini terang banget seperi usaha untuk menjatuhkandia.”
Aku tersenyum, teringat berita tentang ini yang sering muncul di TV. “Di TV, dia juga bilang begitu.asal tahu aja, ya, Dian itu bukan orang yang suka memanfaatkan pekerjaannya untuk menjatuhkan orang lain.”
“Tapi Cuma koran ini yang selalu mengusut skandal ini.” Rian menunjuk-nunjuk nama koran sambil melotot kea rah ku. Sebenarnya dia tak perlu melotot seperti itu, karena matanya memang sudah besar walau tidak sedang melotot. “Lagi pula, kenapa cuma dia yang jadi penulis tunggal berita ini?”
“Dian itu orangnya konsisten, kalau sudah mulai dari A berarti akhirnya harus sampai Z.” Jawabku membela Dian. Aku muak dengan komentar seperti itu dan terpaksa balas berkomentar seperti ini setiap kali pembicaraan seperti ini berlangsung. Aku mati-matian membela Dian sebisa ku, karena dia adalah kakak ku. Aku rasa dia tidak akan melakukan hal yang ‘kotor’ sekalipun untuk mendapatkan kesenangan tingkat tinggi. Hiduo bersma dengannya selama hampir dua puluh satu tahun, besar di keluarga yang sama dengan didikan yang sama dari orang tua, aku rasa aku tahu Dian itu seperti apa. Karena kami mirip dalam hampir setiap tindakan.
*****

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang