Friday, January 25, 2008

Chapter 7 : Putra Bangsa

Aku dan Dian datang dengan tergesa-gesa ke rumah sakit. Aku memasang jaketku erat-erat karena entah mengapa aku merasa udara pagi ini sangat dingin sekali. Suasana di depan rumah sakit saat itu tampak lengang, hampir tak ada orang yang hilir mudik di halaman rumah sakit. Sesampainya di loby , aku dan Dian langsung menuju meja informasi untuk mencari tahu di mana om Yuda dirawat.

“Maaf, Mbak, ini bukan jam besuk,” kata si perawat yang sedang jaga saat itu.

“Sus,barusan ada orang masuk, bapak-bapak, namanya Yuda Arianto, pasien stroke, dirawat di mana, ya?” Tanya Dian, dengan irama yang tidak teratur dan jelas.

Perawat itu langsung berbalik ke belakang dan mengambil sebuah buku besar yang terletak di atas meja kay kecil yang panjang dibelakang meja informasi. Dia lalu membawa buku itu ke hadapan aku dan Dian dan membukanya dengan gerakan tangan yang cepat. Di halaman kesekian dari buku itu, jari tangan kanannya yang lentik mulai merayap turun dari atas ke bawah pada kolom nama. Setelah memeriksa sekitar tiga halaman, perawat itu mendongak dan menggelengkan kepalanya kepada kami.

“Maaf, Mbak, tidak ada pasien stroke yang bernama Yuda Arianto yang masuk hari ini,” jelas si perawat.

Dian menoleh ke arahku. “el, kamu yakin yang nelpon tadi tante Gina? Kok bias nggak ada, sih?”

“Beneran, Mbak.”

“Kamu ngigau kali, El.”

“Beneran, Mbak. Tadi tante Gina sendiri yang bilang kalau om Yuda kena stokr dan masuk rumah sakit sini,” kataku membela diri.”Begini saja, Mbak,” si perawat mencoba member solusi, “Mbak berdua silahkan melihat-lihat di sekitar ruangan ICU. Mungkin di sana ada seseorang yang mungkin orang yang Anda kenal. Tapi mohon jangan buat keribuatan.”

Aku merasa ada benarnya juga melakukan apa yang disarankan oleh perawat itu. Kami berdua lalu pergi ke ruang ICU. Sesampainya kami di sana, aku memasang mata dengan sangat terfokus untuk memperhatika melalui kaca pintu setiap kamar di ICU wajah-wajah orang yang terbaring ranjang danorang-orang yang ada di sekitar kami. Tapi, hampir sampai ujng ruang ICU, aku maupun Dian sama sekali tidak menemukan om Yda ataupun tante Gina, bahkan keluarga atau kerabat yang kami kenal.

Dian melirik jengkel ke arahku. “Nggak ada kan, El,” gerutu Dian.

Aku diam, tak tahu harus membalas denan jawaban seperti apa. Aku mencoba berpikir ulang, tapi aku yakin aku tidak salah. Orang yang engaku tante Gina tadi memang meminta kami untuk datang ke sini. Aku menggeleng pelan. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Dengan melangkah lunglai aku mengikuti Dian yang berjalan cepat dari belakang. Aku tahu dan dapat menyadarinya bahwa ekspresi Dian yang seperti itu berarti dia sedang jengkel. Aku tak berani mengeluaarkan epatah kata pun kalau berada dalm keadaan seperti ini.

Suara serine mobil pemadam kebakaran memecah keheningan pagi itu. Sebuah mobil besarpemadam kebakaran roda enam melintas dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Aku terpana dengan apa yang aku lihat. Dan tiba-tiba tanpa ku minta jantungku berdetak dengan kencang.

*****

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang