Monday, April 21, 2014

Selamat Hari Kartini, Mama

Hari ini, di hari Kartini yang entah telah diperingati untuk keberapa kalinya, kami menghabiskan sepanjang siang di rumah sambil menonton televisi dan tiduran, sedang saya bermain internet. Saat memasuki jam-jam tanggung untuk makan siang dan sudah lapar setelah makan pagi, saya mebuat omelet mie seperti yang sudah sering saya lakukan. Omelet mie seperti sudah menjadi senjata pamungkas pertolongan pertama pada perut kriuk kriuk.

Kami menikmati siang ini dengan makan sepiring omelet sambil menonton drama rohani dengan alur cerita yang sering bikin saya garuk-garuk kepala. Ibu saya memang suka sekali nonton drama jenis ini karena memang tak punya pilihan banyak drama yang yang jauh lebih baik. Sebagai anak yang berusaha menjadi anak yang baik, saya tak pernah protes. Kebersamaan ini mungkin jarang saya miliki ketika masih bekerja seperti dulu. Makan memang menjadi mediator kebersamaan paling ulung dalam keluarga. Kami makan sambil mengobrol tentang hal-hal ringan, yang bahkan tak perlu, dan saling menertawakan. Momen seperti inilah yang saya nilai sebegai rejeki terbesar pemberian Tuhan.

Tak banyak yang tahu bahwa ibu saya memiliki nama yang sama dengan pahlawan emansipasi wanita yang pemikiranya selalu kita rayakan setiap tanggal 21 April. Entahlah, apa yang dipikirkan dan diharapkan oleh kakek nenek saya saat memberikan nama tersebut pada ibu. Yang saya tahu, nama tersebut bukan nama kelahiran ibu. Sebelumnya ibu punya beberapa nama, tapi konon namanya kurang cocok sehingga  ibu sering sakit jadi ibu beberapa kali diganti nama hingga memiliki nama yang ‘mungkin’ pas sampai sekarang.

Apa ada diantara anda yang saat saya sebut nama ibu saya kemudian langsung mencari kemiripan sifat atau wajah antara dua orang bernama sama ini?

Jika mencari kesamaan, sudah pasti mereka sama-sama perempuan tapi ibu saya lahir di bulan Desember. Ibu saya orang Kalimantan, bukan Jawa, dan sejauh garis keturunan yang saya tahu sama sekali tak ada darah Jawa. Dari segi umur ibu saya lebih berumur panjang. Di umurnya yang ke-45 tahun ini, walau sering sakit-sakitan, ibu Alhamdulillah masih bertahan. Mereka berdua memang sama-sama tangguh. Jika R.A Kartini berpikiran bahwa perempuan berhak mendapat perlakuan yang setara dengan laki-laki, maka ibu saya berpikiran untuk tak hanya jadi perempuan yang hanya bisa berpangku tangan. Kemandirian ibu memang harus jadi ‘tempat ngaca’ saya di masa depan. Setelah menikah, ibu berjuang jatuh bangun hanya bersama abah tanpa meminta bantuan orang tua mereka.

Tapi Kartini itu sering terbaring lelah akhir-akhir ini. Faktor usia. Saya hanya menanam pikiran itu atas nama rasa lelah dan sakit yang dia derita. Terlalu mengerikan jika harus memikirkan penyakit-penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dia memang sudah sampai pada suatu saat untuk beristirahat lebih banyak.

Seperti yang pernah disebut dalam sebuah artikel, ketika memasuki usia tua maka orang tua kita ingin lebih ditemani. Benar juga, saat seusia saya kita masih sering berkumpul dengan teman-teman. Ketika sudah tua nanti, akan datang saat kita sudah tidak tahu dimana keberadaan teman-teman kita. Hanya keluarga yang selalu ada dan tetap berada di samping kita, apa pun keadaannya.

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang