Friday, April 4, 2014

Demokrasi Move On

Ih, bentar lagi 9 April, udah pada punya pilihan buat dicoblos belum?? kalo kata lagu alm. Chrisye, ‘jangan pernah memilih, aku bukan pilihan,’ haaa kampanye udah ada yang nyanyi lagu ini belum?

Pemilu legislatif udah dekat, tapi saya sih belum punya caleg pilihan. Calon apa sih yang saya punya?? *upss, makna terselubung*. Ok, fine, kembali fokus. Pemilu tinggal hitungan hari, iklan di tipi semakin kejar tayang aja dong… Berakibat mulut gue yang gatal pengen ngomentari. Ngomentari iklannya doang gak papa kan? Udah gak jaman main tangkap-tangkapan lagi kan sekarang? Aku kan atuuuuuuuttt… Ngapain atut? Atut udah dipenjara.

Beberapa iklan udah tampil jauh lebih kreatif. Setidaknya menghiburlah dengan lakon pemerannya yang lucu-lucuan dan dari segi visi misi tersampaikan. Ada juga iklan yang tampil dengan semangat menggugah yang agak menghipnotis dan berpeluang membuat saya hampir berjalan tanpa ragu ke TPS dan mencoblos partai mereka. Dan masih ada aja partai yang minta pengakuan atas keberhasilan mereka. Kerja itu bukannya juga ibadah? kalo kerjaannya minta dipuji, riya gak? Apa saja yang sudah kita kerjakan, itu bagian dari masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu, itu hanya untuk dikenang. Karena kita hidup untuk menjalani hari esok, maka sebaiknya move on saja lah.

Move on? yup, sepopuler kata move on itu sendiri yang jadi jargon generasi muda yang mencoba bebas dari kegalauan masa lalu. Kalo menurut hitungan manusia sih, dari segi umur dan angka peluang hidup, generasi muda ini lah yang akan menjalani kebijakan yang akan datang. Intinya generasi tua gak bakal selama generasi muda.

Kembali ke iklan. Saya hanya mengomentari ini dari sudut pandang seorang penonton. Terdapat beberapa iklan yang bikin saya ber-capek deeeeeeh… menggelitik. Ada yang berencana membawa Indonesia kembali menjadi macan Asia. Kapan ya Indonesia pernah jadi macan Asia? Waktu itu sih saya pertama kali dengar istilah macan Asia pas kelas 4 SD, atau 5, 6, atau kapan yaa.. berarti sekitar 15 tahun yang lalu, maybe? Dan waktu itu pun terdapat kata ‘pernah’, berati kejadian jadi macan Asia nya sebelum itu lagi dong. Wah, berarti generasi saya belum ngerasain pak kaya gimana rasanya Indonesia jadi macan Asia. Lha kok macan sih pak? kenapa gak Singa aja? Atau Ceetah yang larinya cepat. Saat ini tuh kita perlu membalap Jepang terlebih Korsel yang perkembangannya kok terasa ngebut amat pak. Jauh mimpi ku pak, nunggu loading internet aja kadang bisa dibawa bikin kopi dulu. Kadang saya malah bawa sholat sama ngaji dulu saking saya itu cuma bisa minta ke Tuhan aja supaya koneksi internet ini bisa cepat. Atau jadi serigala aja pak? Serigala berbulu domba. hahahahhaa. Atau kenapa kita tidak menjadi garuda saja pak? Garuda Indonesia, Garuda Asia, terbang tinggi melintasi bumi. *Awas kalo ada yang sampe ngutip Garuda Indonesia Garuda Asia ini (–___-“) *

‘Enak jaman si kuning kan’. Si kuning sama yang mau bikin Indonesia kembali jadi macan Asia ini sebenarnya dulu bukannya berasal dari kubu yang sama ya? Kenapa kalian mengungkit kegalauan masa lalu itu kembali lagi… Kalau liat film jaman dulu di channel Festival, kecuali alam yang masih asri dan jalan yang macet, gak ada yang bikin pengen kembali ke jaman dulu.  Kalau dulu hidup asal bisa makan saja sudah cukup. Jauh sebelum ada iPhone, android, samsung, apple, hyundai, jauh sebelum Syahrini pamer dari ujung rambut sampai ujung kaki barang branded semua, sebelum para artisnya pakai supercar, sebelum ada instagram yang mempunyai satu pemilik akun super sensitif seluruh Indonesia. Tegar aja tau pak, bahwa aku yang dulu bukanlah yang sekarang…..

Jadi bapak mau bikin negara kita maju atau sejahtera? Atau jadi negara yang mandiri aja dulu? Karena kalo ngomongin negara maju, berarti kita ngomongin puluhan tahun yang akan datang, pak. Bisa jadi saat Indonesia sudah maju saya aja malah sudah beristirahat di bawah tanah. Jangan-jangan saking majunya Indonesia di kubur saya malah berdiri apartemen atau pusat perbelanjaan yang malam jumat bukannya ngaji malah ajep-ajep. Jangan heran kalau arwah saya bisa jadi sekum koordinator demonstrasi arwah pencari ketenangan alam barzah.

Kalau bapak pengen Indonesia seperti yang dahulu, yang katanya jauh lebih nyaman sejahtera atau entahlah saya ingatnya cuma zaman krismon, sama aja sih kaya saya yang pengennya Liverpool kembali berjaya. Kehidupan ini laksana roda yang berputar, seperti bola juga. Ada saat kita berjaya, ada saat kita terpuruk, ada saat kita bangkit lagi. Saya aja pak sebagai fans Liverpool, setahun yang lalu masih merasa terpuruk dan bertanya-tanya kapaaan Liverpool bisa masuk 4 besar lagi. Setahun yang lalu kami masih di bully pak, dan sekarang baru lah kami bisa tersenyum kembali. Btw, kalo ngomongin negara maju, kemajuan negara juga tercermin dari kemajuan sektor olahraganya. Negara maju mana yang gak ada timnya di Piala dunia? Olimpiade juga medali mereka banyak. Pendidikan mereka juga posisi-posisi atas. Ya ampun, banyak bingits ya PR bapak-bapak ibu-ibu. Kita memang benar-benar harus move on

Oiya, ada satu hal lagi sih yang bikin saya bingung pemilu kali ini. Ada partai yang sudah menetapkan capres dan cawapresnya, ada juga yang baru sekedar mengusung beberapa calon. Yang jadi masalah adalah capres yang saya taksir buat jadi Presiden baru sebatas bakal capres. Saya kan jadi bingung. Jika saya memilih partai A, tetapi ternyata partai A tidak meng-goal-kan bakal capres tersebut atau kalah dalam koalisinya nanti, berapakah peluang negri impian saya tercapai? Pemilu legislatif kita akan menentukan jumlah suara wakil rakyat. Koalisi parta aja masih gak jelas yang mana bakal gabung sama yang mana. Gimana ntar kalo presidennya kalah suara sama koalisi mayoritas, masa pemerintahan kita shut down kaya di Amrik? Ketidak jelasan beberapa partai atas siapa capres dia usung bikin bingung juga sih. Sebagai rakyat yang cuma pengen menggoalkan capres nya aja, saya jadi dilema sih. Misal milih partai yang itu, kalau ternyata bukan bakal capres yang itu terpilih gimana?

Ribet ya bok demokrasi. Apapun, siapapun yang terpilih, saya berharapnya mereka bisa peduli sama bangsa ini deh. Sayangnya gak ada negeri maju idol, jadi gak bakal ada jalan instan buat negara ini menjadi negara maju, sejahtera, aman, sentosa. Yuk, move on, moving forward. Jalan menuju Indonesia sejahtera masih panjang. Gak bakal cukup lima tahun (sekali periode), sepuluh tahun. Walau presiden kita cuma bisa menjabat dua kali periode, berarti bakal ada kebijakan yang berbeda tiap presiden baru, baiknya mereka bisa meneruskan pergerakan perkembangan bangsa ini. Belajarlah jadi masyarakat yang tidak terbuai dengan janji muluk atau uang soekarno hatta yang mengunjungi anda di pagi buta pemilu. Bukan pemimpin yang membuat negara ini maju, tapi rakyatnya. Pemimpin dan wakil rakyat itu hanya menjadi perantara keinginan rakyat. Mereka membuat undang-undang dan segala keputusan pemerintahan berdasarkan apa yang rakyat butuhkan (normalnya). Jadi sebagai rakyat, marilah kita kreatif menjadi rakyat, jangan cuma mengeluh dan merengek. Kita belum sampai pada tahap rakyat yang bisa begitu saja menyerahkan segalanya pada pemerintahan.

 

*tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyinggung pihak manapun yaaaa…. Open-mouthed smile

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang