Sunday, March 16, 2014

Siang Untuk Siang, Malam Untuk Malam

Dia menciptakan siang untuk kita bekerja dan malam untuk kita beristirahat. Mungkin hal ini kedengarannya simple, tapi semesta mendukung hal ini secara sistematis.

Saya terpikir tentang hal ini ketika melihat seringnya para pekerja kuli angkut tanah yang bekerja di pelabuhan dekat rumah saya. Hari ini, mereka bekerja di kapal yang menyedot sesuatu atau ‘menguras’ tanah ke sungai. Sesaat setelah adzan magrib mereka kembali bekerja. Ribut suara mesin mereka terdengar sampai rumah. Orang tua saya sering berkomentar tentang betapa ‘terlalu’ sekali mereka bekerja hingga malam karena secara tidak langsung bikin ribut lingkungan sekitar. Tapi, ya, mau apalagi. Namanya juga kerja. Diperlukan kerja yang banyak supaya bisa dapat uang banyak agar bisa beli banyak hal.

Semesta ini bekerja pada alurnya. Siang terjadi karena memang sudah waktunya siang, malam karena memang sudah waktunya malam. Tak ada manusia jenius manapun yang bisa menghambat terjadinya pagi dan malam. Matahari yang terangnya 6.000 watt menyinari kita tanpa minta bayaran sepeser pun dan memudahkan kita bekerja tanpa takut gelap yang menyulitkan penglihatan kita. Bulan memancarkan cahaya yang lembut dan memberi ketenangan di malam hari. Pohon mengeluarkan oksigen di siang hari. Beberapa artikel yang saya baca juga pernah menyebutkan bahwa hati kita mempunyai jam kerja yang membutuhkan istirahat di malam hari. Mungkin ini lah hukum alam, semuanya terjadi dengan saling mendukung satu sama lain.

Mengapa kita tak mengikuti alur kerja alam semesta saja? Kehidupan manusia memang berjalan dengan cara menuntut manusia itu sendiri. Hidup itu adalah tenggat waktu menunggu jatuh temponya akhir hayat. Bagaimana cara kita memanfaatkan tenggat waktu, momen jatuh tempo hanya menanti untuk memberikan finnishing touch  dari bagaimana cara kita memanfaatkan tenggat waktu.

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang