Sunday, January 12, 2014

Apa Adanya(man)

Menjadi diri sendiri itu ya bisa dibilang menjadi se-apa adanya diri kita aja.  Jika oksigen itu ibarat sikap menjadi diri sendiri, maka oksigen itu rawan terkontaminasi dengan adanya kegiatan manusia yang membuat oksigen bisa menjadi racun bagi manusia itu sendiri. Cara menikmati oksigen pun jadi bermacam-macam, ada yang langsung menghirupnya, ada yang butuh oksigen buatan, ada yang perlu masker, ada yang perlu pengharum udara/ruangan dulu baru bisa nyaman. 

Nyaman. Nyamanlah yang menjadi faktor utama tentang keputusan manusia dalam memilih untuk menjadi apa yang dia suka. Perasaan nyaman tentang diri sendiri dengan atau tanpa perlu menambahkan sesuatu yang dibuat-buat. Semuanya berpulang kepada nyaman. Apa adanya. Yang ada di situ adalah nyaman. Nyaman menjadi seperti ini, nyaman menjadi seperti itu.

Tuhan sama-sama menciptakan kita sebagai manusia. Kemudian kita berkembang sesuai dengan pola pikir kita. Pola pikir yang memberi merasa nyaman untuk menjadi suatu pribadi yang dapat kita nikmati sendiri. Dengan berlindung di bawah payung statement tak ada manusia yang sempurna, kita semua jadi memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seringkali manusia sulit menerima hal ini, sehingga sering menimbulkan konflik yang mengusik kenyamanan itu sendiri. Hingga akhirnya nyaman itu menemukan tempat yang baru. Suatu tempat dimana dia merasa terhormat, di kasta tertinggi pikiran manusia.

Bisa dibilang nyamanlah yang menjadi tujuan hidup manusia. Segala yang diperbuat mengarah ke sana. Marah untuk mencari rasa nyaman ketika sesuatu tidak berjalan seperti keinginan nyamanmu. Diam untuk menjaga nyamanmu. Peduli untuk mempertahankan nyamanmu. Berjuang untuk menggapai nyamanmu. Menangis untuk takut kehilangan nyamanmu. Bahagia karena nyamanmu telah menemukan tempatnya. Nyamanmu bisa bersemayam di mana-mana. Dalam kebaikan atau keburukan.

Saya, kita, sudah nyaman dengan diri sendiri. Kemudian keberadaan orang-orang yang hadir di sekitar kita membuat nyaman itu menjadi galau. Haruskah ia beradaptasi? Haruskah ia mempertahankan diri? Atau haruskah ia berubah?

*buah pikir kegalauan yang muncul hanya karena melihat sebuah mug.

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang