Thursday, December 12, 2013

Cita–Ci(n)ta yang Terdalam

Mungkin cita-cita saya yang sebenarnya adalah ingin menjadi anak yang berbakti. Suatu cita-cita yang tak tertulis, tak tercantumkan di lembar biodata yang saya isi di diary teman-teman SD-SMP, hanya tersampaikan lewat doa. Semenjak kecil, pandangan saya tentang anak yang berbakti itu simple. Tak kurang ajar seperti malin kundang, patuh dan bisa membanggakan orang tua.

Apa yang saya lewati beberapa bulan ini mungkin adalah bagaimana cara Tuhan membari kesempatan untuk menjadi anak yang berbakti. Percaya atau tidak, semua seperti berjalan sesuai rundown ‘Pelatihan Anak Berbakti’.

Saya sudah membicarakan perihal keinginan untuk resign dengan orang tua sejak awal tahun 2013. Puncaknya terlontar sekitar bulan Mei namun tak kunjung terjadi. Kemudian awal Juli kemarin Ibu masuk rumah sakit. Saat itu terlontar pada abah keingin bulat saya untuk resign. Saya mengajukan alasan ingin merawat ibu. Tapi berhubung penghasilan saya kalau dihitung-hitung, selain untuk pengeluaran pribadi, juga bisa sedikit membantu membayar pengeluaran keluarga, maka hasrat resign saya urungkan untuk saat itu. Dan takdir punya cerita tersendiri.

Saya akhirnya resign juga sebelum hari raya haji kemaren. Beberapa hari setelah itu ibu masuk rumah sakit lagi. Hasil pemeriksaan tentang penyakit ibu saya benar-benar meruntuhkan kebahagian saya. Ketika keluar rumah sakit kondisi ibu sama sekali tidak fit. Sedih rasanya. Ibu sering sekali minta diurut, baik itu saat di rumah sakit atau ketika sudah pulang. Pasca keluar rumah sakit, sekitar tiga malam saya tidur di kamar ibu, karena saya tidurnya tidak banyak gerak dan mudah terjaga.

Doa bisa terkabul dengan berbagai cara. Memang beberapa tahun terakhir saya berdoa agar bisa membahagiakan orang tua. Saat itu saya terpikir bisa membahagiakan orang tua secara materi. Cari pekerjaan yang bagus dengan gaji bagus. Tapi sepertinya Tuhan mengingatkan kalau materi itu bukan kebahagian sejati. Saya ingat betul ketika ibu berucap, ‘Untung ada anakku, jika tidak siapa yang akan menjagaku di rumah. Jika anakku seperti orang (bekerja atau sudah punya rumah tangga sendiri) kayapa aku?’. Dengan senyum dalam hati, saya bangga ketika ibu mengucapkan hal tersebut kepada beberapa orang yang datang ke rumah. Ternyata keberadaannya saya yang selalu berada di sisinya lah yang membuat ibu merasa nyaman. Kemudian setelah itu ibu akan berbagi cerita betapa beruntungnya dia dan mereka yang punya anak perempuan, maka ada yang akan menjaganya di kala sakit dan hari tua.

Memang bukan seperti inilah hari-hari yang saya inginkan. Jika melihat iklan tempo grup, saya selalu ingin menjadi seperti salah satu perempuan pemimpin di iklan tersebut. Punya karir mapan, kesuksesan, materi. Tapi itu berarti saya jauh dari ibu. Setiap melihat iklan tersebut dan perasaan iri itu muncul lagi, maka saya akan memalingkan wajah menatap ibu. Melihat ibu yang mungkin sedang istirahat tidur siang, melongo nonton sinetron religi atau sinetron aneh lainnya, makan, berjalan di samping saya, itu jaaaaaaauh lebih menentramkan hati saya. Sekarang prinsip saya cuma satu, saya gak mau menderita penyesalan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu manfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk jadi anak yang berbakti.

Oiya, Happy Birthday Mama (8/12). Semoga diberikan umur yang panjang, bisa nemein saya sampe melahirkan anak yang ke-3 (mau anak berapa aja Insha Allah dikasihnya berapa), pengobatan kita lancar dan cepat sembuh, lebih berbahagia lagi, cepat dapat mantu dan cucu biar hari-harinya lebih rame yaa.. iyaa kali yaaa…

Hehehhehee jadi kepikiran begini. YKS tadi lagi ngebahas ortu. kenapa ya itu si Kiwil?

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang