Friday, November 29, 2013

Dari Tuhan Untuk Tuhan

Kamu pernah mikirin apa aja soal agama yang kamu peluk?

Akhir-akhir ini perhatian saya tertuju pada kasus pembatalan nikah Asmirandah dan Vano. Ih, penting banget ya jadi ngebahas gosip. Eits, jangan salah, pelajaran hidup itu bisa diambil dari mana saja termasuk infotaiment. Pelajarannya? Cinta kepada manusia jangan sampai mengalahkan cinta kepada Tuhan atau simple nya cinta kepada Tuhan haruslah lebih besar daripada cinta kepada manusia. Bukan ranah saya deh kayaknya kalo mau ngomentarin pembatalan pernikahan mereka itu. Saya di sini hanya mengambil pelajaran bagaimana si cewek ini mengambil keputusan yang sangat besar atas pilihan cintanya. Saya gak tahu pasti ya alasan dia menempuh jalan pembatalan tersebut, tapi yang menarik adalah keteguhan dalam mempertahankan keyakinan.

Indonesia memang bukan negara yang mengakui secara hukum pernikahan berbeda keyakinan. Saya juga gak tahu detailnya dari ketetapan hukum ini, hanya saja sebagai muslim saya menerimanya tanpa protes. Mungkin beberapa orang di luar sana ada yang protes soal kebijakan hukum ini. Tidak sesuai HAM lah, kuno lah, yah you know lah. Tapi soal ini kembali lagi pada kepercayaan yang anda semua anut.

Seorang yang beragama berarti dia memilih untuk hidup berdasarkan sudut pandang agama yang dia anut. Siapa Tuhan yang dia sembah, ibadah yang dijalani sebagai bentuk runitas untuk taat kepada-Nya, menjalankan perintah dan larangan-Nya, Semua itu dilakukan berdasar pada apa yang dijalaninya. Maksud saya, kalau kita udah milih untuk stay di agama yang kita anut berdasarkan keluarga tempat kita lahir atau masuk pada agama tertentu, ya kita harus hidup berdasarkan litelatur agama tersebut doung. Kalau kita punya agama tapi gak menjalani sesuai ketentuan agama, ngapain beragama?

Ngomong-ngomong soal cinta dan Asmirandah, masih jaman gak sih cinta buta? Di zaman dimana anak mudanya sudah banyak yang berpendidikan tinggi dan perkembangan culture, harusnya kisah cinta ala romeo dan juliet udah gak ada lagi dong ya, minimal udah minim lah. Jodoh emang Tuhan yang menentukan, tapi menimbang orang yang kemungkinan jodoh kita juga ya mesti harus pilah pilih. Sedetik ke depan kita mana ada yang tahu, untuk itu yang namanya antisipasi diperlukan. Sebenarnya saya itu mau ngomong kematian itu siapa yang tahu. Jika kematian adalah batas akhir dari kehidupan di dunia ini, maka kita perlu menghadapi kematian sebaik mungkin agar di kehidupan selanjutnya kita gak mederita cyiiiiiin. Kalau saya sih, terserah di dunia mau kaya gimana, yang penting di akhirat gak menderita deh. Aaaamiin. Berhubung orang yang mati itu gak bisa diwawancara mengenai pengalaman dia menghadapi proses kematian, berapa lama waktu yang dibutuhkan malaikat Izrail dalam mencabut nyawa kita dari ujung kaki hingga kepala, jadi karena itu lah kita perlu bersiap diri. Lakukan hal yang benar, agar ketika kita dicabut nyawa saat itu kita berada dalam kondisi yang benar. Kan katanya masa depan kita di akhirat itu tergantung keadaan khusnul khotimah atau enggaknya kita saat meninggalkan? Nah, itu dia.

Saya sih sekarang emang lagi jomblo, jadi gampang aja ngomong cinta kepada mahluk itu jangan lebih besar dari pada cinta kepada Tuhan. Pernah sih beberapa kali jatuh cinta sama mahluk, tapi selama ini cinta nya saya ikat pakai batu terus ditenggelamkan ke lautan dalam biar gak nongol-nongol lagi dan berhasil. Soalnya gak ada yang bikin yakin sih, pandangan hidupnya berbezaaaa (ter-Siti Nurhaliza). Kan salah satu cara wanita bisa masuk surga itu dengan menjadi istri yang berbakti. Gimana mau berbakti sama suami kalo suaminya gak bener? Beda jalan pikiran. Kalau kata Rosa ‘Hey ladies sekarang cinta pakai otak’.

Kita ini kan mahluk Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Kalau kita mengikuti perintah dan petunjuk Tuhan, pas kembali ke Tuhan nya gak bakal nyasar deh. Kayak anak pramuka tuh ya, yang biasanya main game antar posko itu, kalau dia mengikuti sesuai rute dan petunjuk jalan yang diberikan, maka dia akan mengakhiri game dengan baik, gak pake nyasar. Saya gak bermaksud menyinggung apa dan siapa ya. Karena kembali lagi apa yang kita lakukan ini berdasarkan keyakinan kita masing-masing. Mau berpegang pada agama atau keyakinan yang kita buat sendiri, it’s been up to you. Cuman ya, orang-orang yang beragama tau bahwa duniawi itu bukan hal yang abadi. keep smile :)

1 Komentar:

  1. hahahahahh
    setujuh!!!!!!
    akur!!!!!!
    agree!!!!!!!! =))))))))))

    ReplyDelete

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang