Monday, December 17, 2012

Good Bye Kiprit , Rest In Peace

Oke, sebut saja saya konyol. Sedih karena salah satu kucing kesayangan saya mati. Saya rasa ini manusiawi. Sudah lebih 2 tahun saya memeliharanya, waktu selama itu banyak hal yang sudah dilalui sehingga predikat ‘sangat sayang’ wajar saja bila tersemat padanya. Dia yang penurut, gak pernah nyolong ikan (kalo lagi gak lapar), gak pernah ganggu majikannya kalau lagi makan, gak pernah pipis atau pup sembarangan, badannya yang gendut, mukanya yang cakep, dan gak berisik ngeong-ngeong. Saya rasa hal tersebut lah yang bisa bikin saya sangat-sangat menyayanginya.

Cat-style

Gak ada hal yang terlalu istimewa dari dia. Dia kucing biasa, yang dicurigai be-ras Manx karena gak punya ekor dan badannya cenderng lebih gendut dari kucing kebanyakan. Salah satu hal yang saya suka dari dia adalah 4 telapak kakinya berwarna hitam. Dulu, dia sendiri yang datang ke rumah kami. Bukan kami yang memungut dia darimana pun, namun dia lah yang memilih kami untuk jadi majikannya. Saya percaya, jika kucing itu sendiri yang datang untuk minta dipelihara, maka dia akan jadi kucing yang penuh pengabdian.

Dia meninggal dengan tenang, dipangkuan mama pada Sabtu pagi (mungkin sekitaran pukul 9 pagi). Saat dia meninggal mama sama sekali gak ngasih tau saya yang saat itu sedang kerja, katanya ‘kamu kan lagi kerja’. Iyup, mama melakukannya dengan tepat sekali. Saya bisa jadi sangat gak konsen kerja kalo tau dia meninggal. Saya teringat ketika saya makan pagi sekeluarga di dapur, dia tiba-tiba masuk ke dapur. Merangkak dengan susah payah dan mengeong, padahal semenjak sakit dia sangat susah untuk membuka mulutnya apalagi mengeong. Itu adalah saat terakhir saya melihat di hari dia meninggal.

Entahlah, kali ini saya tak menangis ataupun sedih yang berlebihan ketika tau kiprit meninggal. Apa ini kelewat sedih atau saya yang sudah tidak bisa mengekspresikannya lagi. Tapi kemudian saya menangis dimalam harinya, ketika sevi –anak dari kiprit- masuk ke kamar saya dan minta disayang. Ja, sevi satu-satunya anak Kiprit yang bertahan hidup karena rata-rata anak Kiprit yang lain tak berumur panjang. Sevi, walaupun umurnya sudah setahun lebih, sangat manja sekali dengan Kiprit. Dia masih suka ngejilatin ibunya biar ibunya ngejilatin dia balik, kadang lari-lari bareng ibunya di dalam rumah, loncat sana loncat sini, ngajakberantem kucing lain yang memasuki zona kekuasaan mereka berdua. Alhasil, saya cuma bisa nepuk-nepuk dan mengusap-usap Sevi sambil mengingat bagaimana biasanya kelakuan Kiprit. Kami berdua rebahan sambil berhadapan, saya bersedih dan Sevi tertidur.

Photo-0378

Semoga Kiprit tenang disana, duh pengetahuan agama saya kurang banget tentang bagaimana nasib hewan ketika mereka sudah meninggal. Ketika dia sakit, saya dan keluarga sudah berusaha maksimal. Setidaknya saya sudah berusaha dengan membawa dia ke dokter hewan. Tak ada penyesalan karena sudah menelantarkan dia. Dia memang sudah cukup tua untuk seumuran kucing, mungkin memang sudah waktunya dia berpulang ke rahmatullah. Dan masih ada garis keturunan Kiprit; Sevi.

1 Komentar:

  1. :'( :'( :'(
    RIP kiprit aka lamak aka si bulat...
    yg tabah memeth sayang... :*

    ReplyDelete

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang