Are You ‘Pencitraan’ Enough?

Saya tidak suka pencitraan, saya tidak membuat pencitraan. Saya tau, di zaman sekarang, bentuk pencitraan di media social sekali pun sangat-sangat menentukan pandangan orang terhadap diri anda. Anda akan berada pada suatu konsep untuk menuliskan atau tidak apa yang saat ini sedang ada dipikiran anda. Selayaknya hal ini bisa membantu anda menaikkan citra positif melalui persfektif orang lain. Siapa tau, ada bos atau rekanan kerja yang memantau anda dan menimbang-nimbang untuk meng-catch anda.

Sekarang coba pertimbangkan apa efek buruk dari sebuah pencitraan? Tapi perlu digarisbawahi bahwasanya pencitraan bukanlah bualan tentang diri sendiri. Yes, sampai detik ketika menulis ini saya belum ketemu efek buruk dari pencitraan. So, kalau ada diantara anda yang tau apa, tolong kasih tau saya ya.

Untuk memelihara pencitraan di dunia maya, anda akan dihadapi pada pilihan untuk ‘seberapa perlu kah anda untuk menulis sebuah status di akun socmed?’ kemudian berlanjut ‘apa gunanya jika saya menuliskannya?’

Perlu dan tidak perlu, itu tergantung dengan seberapa ekspresif diri kita. Jika boleh digolongkan, pengguna socmed bisa dibagi menjadi 4 golongan. Golongan 1)  Orang-orang yang sangat begitu ekspresif sehingga untuk hal kecil semacam kata ngantuk, lapar, hujan, dijadikan sebagai status. Padahal kita semua tahu dengan menulis hal tersebut tidak akan memberikan perubahan berarti. Karena kalau ngantuk ya tidur, kalau lapar ya makan, kalau hujan ya udah hujan aja. Bahkan ada juga yang semacam laporan kepada khalayak ramai sedang bepergian atau berada dimana sekarang. Mbak-Mas, rumahnya udah dikunci rapat? Ntar ada yang masuk loh. Tapi itulah bagian dari sebuah ekspresi ya. Setiap orang mempunyai kebebasan dalam berekspresi ya. 2) Golongan yang lebih memilah-milah mana saja yang perlu untuk di-share sebagai status; jika itu hanya keluh-kesah dan tiada guna, untuk apa ditulis? Lebih baik jika menulis sesuatu yang berbau positif dan terkesan profesional. 3) Golongan berjiwa salesman sejati. Mungkin anda sering menemui orang-orang yang ngetweet dengan isi barang-barang jualan. Beberapa diantaranya menjual status kejombloan, kecantikan, kecakepan. Ouch menurut anda orang-orang yang terlalu intens mengupload foto diri senidiri di socmed perlu dimasukkan kedalam golongan ini tidak? (–_-) . 4) Golongan gak punya pulsa. Bagi mereka kehadiran socmed sudah mejadi pengganti telpon dan sms. Mereka saling bertanya, janjian, ngerumpi di lini masa. Pernah terjebak dalam lini masa yang seperti ini?

Tapi kita semua mempunyai kemerdekaan untuk mengatakan apapun yang ingin kita ungkapkan di dunia maya. Karena itulah dunia maya menjadi sangat berkembang. Tapi kita hidup di dunia nyata. Apa yang kita lakukan di dunia nyata diperbincangkan di dunia maya, apa yang kita perbuat di dunia maya diam-diam memberikan pengaruh pada dunia nyata anda. Pernah gagal dalam suatu ‘project’ hanya karena anda terlalu judgmental di dunia maya? Jika hal ini pernah menimpa anda, mungkin ada baiknya jika anda mengoreksi kembali aktivitas  dunia maya anda selama ini. Bayangkan jika ini terjadi pada sebuah brand. Suatu barand membuat sedikit kesalahan, beberapa orang nyamber dan memperbicangkan kesalahn ini di dunia maya. Ke-unlimited-an dunia maya membuat hal ini lekas tersebar. Jika yang meng-handle brand tersebut tidak dengan sigap mengatasi masalah ini, maka mungkin mereka harus mempunyai pertahanan ekstra jika kiamat kecil menimpa brand mereka. Saya sudah pernah menyaksikan beberapa brand mulai dari mobil hingga majalah, yang hanya karena ketidakpekaan admin socmed mereka, akun mereka ramai-ramai ‘dikeroyok’.

Pengalaman saya tentang pencitraan? saya gagal memelihara pencitraan *sigh* Ini karena saya terlalu jujur dan blak-blakan. Oke, sebagai orang yang mengecap perkuliahan manajemen, seharusnya saya paham betul tentang konsep ini. Tapi selama ini saya lebih memilih untuk tidak mengamalkannya. Saya lebih memilih untuk menjadi diri sendiri se-apa-ada-nya. Seringkali karena perasaan bahwa kita sudah pernah menghadapainya kita jadi dengan mudah memberikan komentar, membanding-bandingkannya dengan apa yang pernah kita alami, kemudian menuliskannya di socmed. Perlukah hal ini dilakukan? Perlu jika kita ingin menjadi rival, tapi tidak perlu jika ingin menjadi partner. Istilah diam itu emas masih berlaku untuk kondisi semacam ini. Akan lebih baik untuk diam dari pada mulutmu jadi harimau mu.

3 Komentar:

  1. ouuwww... nu post nu concept ya????
    semuanya baruuu... :D

    ReplyDelete
  2. iyes nih, theme baru. ahahhahaaa apaan banget gitu ya gambar cewek disamping ini.

    ReplyDelete
  3. Aku kok kayanya masuk kategori nomer 4 ya met. Hahhahhhaa..

    ReplyDelete

Pages

About

<a href=http://zawa.blogsome.com>Zawa Clocks</a>