Real Temans :)

I dunno.

Beberapa hari terakhir kenyataan seperti sulit diajak sahabatan. Teganya dia (baca : kenyataan) membuat ku guling-guling-uring-uringan karena hati yang terlanjur kecewa. Hiks, mau saya nangis keluar permata ya juga gak bakal mengubah keadaan. She’s just too nice, I’m too frustrated. Hot and cold. Been up to you to choose.

Dengan malu saya ngaku kalo kali ini ke-kepo-an saya parah. ‘Kalau gak bersedia nanggung sakit hati akibat kepo, gak usah sok kepo deh,’ seorang teman berujar seperti itu. She’s right, saya langsung panas dingin pas tau hasil investigasi. Kemudian galau lah di twitter. Pagi hari kompakan banget buat dibawa bersedih, hujan lebat sampe telat ngantor. Tapi syukurnya saya masih menguasai tehnik akting pengontrolan emosi kelas seorang agen, tsaaah *dijewer Gunawan*, ketika bertemu dengan biang permasalahan saya masih bisa senyum dengan wajah innocent telah stalking loh :)

Ada yang agak mengganjal di hati ketika membaca hasil investigasi. ENVY & please don’t underestimated lagi yah. Sekelompok orang yang jadi objek saya ini mempunyai ikatan pertemanan yang nampak sangat manis. Ikatan yang tak pernah saya jalani. Mereka (eh, dua orang aja sih) saling memuji satu sama lain (eh, satu orang aja sih yang muji-muji teman satunya itu). Selama ini saya mengunderestimed si temannya ini. Tapi dilema muncul ketika saya membaca pujian si temannya teman ini kepada si teman (eh pada bingung gak peng-subjek-an nya ini? hmmm, biar kalian jadi mikir aja sih). Saya pun intropeksi diri, ngaca, saya yang selama ini berteman dan bersahabat dengan teman-teman sendiri, apa pernah dipuji seperti itu? Kemudian semacam nemu jawaban yang berbunyi NEVER, gak pernah dipuji semanis tapi hambar seperti itu. Beh, kenapa jadi sesinis ini ya?

Saya cuma teringat quote rusia yang berbunyi *kurang lebih maknanya* kalau pengen tau bagaimana seseorang, maka kita bisa melihat teman-temannya. Hal ini semacam menjadikan teman sebagai cermin diri. Mereka (orang-orang yang saya envy & underestimated itu) seperti mempunyai persahabatan yang seperti buah stoberi. Tau kan ya kalau stroberi itu sudah biasa dijadikan icon sesuatu yang manis, cute, berwarna cerah, dan rasa manis. Tapi apa yang bisa kalian harapkan dari stroberi? Gak semua stroberi manis kan? Dan saya menengok teman-teman yang sebut saja selama setahun kebelakang menemani saya di dunia nyata, twitter, YM, dan SMS. Bagaimana dengan mereka? He, jangan harapkan pujian manis, selalu menyenangkan, selalu ada kapan saja dibutuhkan. Tapi siapkan pegangan ketika ada kata-kata tajam yang menghujam keluar, itu karena mereka cerdas dan berotak tajam. Selalu siapkan rencana B,C,D,E-Z, karena meraka sekarang sudah sibuk dengan urusan masing-masing, pun saya begitu tapi kita bisa saling menghargai. Siapkan kasur springbed jika jatuh dari langit ketujuh, karena mereka merasionalkan khayalan irrasional mu.

Dan saya menganggap mereka itu seperti coklat, makanan kesukaan saya. Coklat berwarna gelap dan tak secerah stroberi, tapi rasanya sudah pasti manis. Jika mungkin agak eneg, tapi pikiran saya sudah termindset untuk menyukai coklat seumur hidup. Begitulah mereka, saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang seperti ini, berteman baik dengan mereka, mendengar kisah mereka, belajar tentang hidup bersama-sama. Saya dipertemukan dengan orang yang berdedikasi tinggi dengan hidupnya masing-masing sehingga semangat itu juga menular ke saya.

  • Geng Forever

Photo-0542SP_A0370

*dari kiri : Desy, Imah, Arini. Ketiganya teman saya sejak SMA. Desy sejak kuliah stay di Landasan Ulin, sampai sekarang si ibu bidan ini tetap stay di sana. Tapi ALhamdulillah silaturrahmi via sms, twitter, fb, YM masih tetap jalan. Curhat walau segalau apapun ujung-ujungnya pasti bakal ketawa ngakak kalo sama desy =)) Imah dan Arini tetap stay di Bjm. Imah yang sekarang melanjutkan studi MM sambil ngurus bisnis keluarga. Arini yang juga masih berkutat di bisnis keluarga nya. Foto di atas diambil di Pastagio, jalan-jalan dadakan di awal September.

 

  • Geng Pizza Hut

*dari kiri : Hafidz, Ka Anit & Bang Nasir (caten : calon penganten). Baru dua kali sih ngumpul bareng, tapi kita selalu ngumpul di Pizza Hut. Pas foto ini diambil tanggal 7 Oktober, kita ngebajak Hafidz di Pizza hut Duta mall. Maklum dese baru aja lulus jadi sarjana SE dan baru jadian. Tapi ya tetap aja paroan sama ka Anit, kalo eke mah numpang gratisan aja. Ya maklum Ka Anit & Bang Nasir sebagai Marketing Bank kan lebih makmur daripada saya. Hehehee… Hafidz itu…. ah, sudahlah.

  • Geng Mom’s

Photo-0008

*dari kiri : Arini, Cici, Maya. Yang ini geng rumpi di twitter. Bukan ngerumpi yang apaan sih. Malam sebelum ketemuan tanggal 8 Oktober kemaren, si Arini & Cici ngemention saya, maya, imah, bilang kalo acara Mario Teguh Golden Ways sedang ngebahas PHP. Kemudian yang sedang galau dan sakit hati ramailah. Berakibat jadi pengen ketemuan dan cerita-cerita. Sayangnya si Imah yang punya banyak cerita malah gak bisa datang. Eh, lucu ya kalo saya nyebutnya Geng Mom’s, karena emang ngumpulnya kemaren di Mom’s sih, tapi juga karena ini calon istri berdedikasi yang mencari keseriusan hubungan yang halal dan bukan untuk main-main :D

  • Geng Unyu

*dari Kanan : Endah, imah, Sefty, minus Suci yang motoin. DUh, gak nemu foto yang ada ucy nya. Geng unyu ini sudah mulai eksis sejak akhir-akhir waktu kuliah. Sekarang sih udah susah ketemuan. Si Suci nerusin kuliah S2 di Semarang, Endah biasanya lembuuuuuur, pegawai BTN teladan book..

Mungkin akan banyak hal berubah seiring dengan berjalannya waktu, namun aku harap, masing-masing di antara kita perlu mengingat bahwa dulu kita pernah saling sayang.

#nowplaying : Missy Higgins – Ten Days. Maklum lagi galau.

0 Komentar:

Post a Comment

Pages

About

<a href=http://zawa.blogsome.com>Zawa Clocks</a>

Blogger templates

Follow Me On Instagram

Popular Posts