Friday, August 3, 2012

This Is How I’m In Love With You

“Mbak, permisi ya, mbak.”
‘Eh, ini Mas-mas apa gak liat gue lagi sibuk gini. Eh, tapi yang ini cakep sih. Hmm, tapi gue lagi sibuk mas. Tapi kalo dia kekeh nanya sekali lagi, baru deh gue jawab. Ini baru sikap Aurel.’ Batin Aurel sambil lirik-lirik ke arah seorang pria berseragam SMA yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya di stand pendaftaran lomba di depan ruang OSIS.
“Mbak, Haidir nya ada?” Tanya pria itu sekali lagi.
“Haidir nya gak ada, kalo Haris ada.”
“Lho, Haris itu siapa?”
“Haris itu asistennya Haidir.”
“Ada asistennya juga ya?”
‘Ebuset, banyak nanya nih orang,’ Aurel mendongak dan menatap lurus pria itu. Pria itu tengah menatap lekat Aurel. Damn, tatapan mata macam apa itu? Aurel bingung harus berpegangan pada apa ketika ia merasa jantungnya hampir jatuh saat bertemu mata dengan pria itu.
“Dari SMA mana, Mas?” tanya Aurel. Matanya jelalatan mengintograsi seragam sekolah pria itu. Di lengan kirinya tertera lambang tut wuri handayani dengan angka 3 di tengahnya. Lokasi sekolahnya tak terlihat jelas karena agak kabur.
“SMA 25, mbak. Saya mau ketemu Haidir, soalnya saya sudah titip formulir pendaftarannya sama dia.”
“Emang mau ikut lomba apa?”
“Lomba pidato. Kalo pendaftaran lomba pidato sama siapa, ya?”
“Sama saya juga.”
“Oh, sama mbak. Sendirian aja, mbak?”
‘Lo perhatian ato prihatin sih?’   Aurel menarik kedua ujung bibirnya dan mencoba tersenyum ramah. “Iya, Mas. Maklum lagi jam pelajaran jadi yang jaga standnya cuma sendirian aja.”
“Jadi saya gak bisa ketemu Haidir?”
“Haidirnya lagi di keluar, Mas. Dia lagi ada urusan sama pihak sponsorship. Kalo soal formulir biar saya coba cari dulu ya, siapa tau udah dimasukin list sama Haidir. Bentar ya, Mas, saya cari dulu.”
Aurel beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan OSIS. Dia masuk ke ruangan tempat penyimpanan berkas. Di sebuah lemari kayu dipojok ruangan, Aurel mengambil map berwarna merah tua tempat dikumpulkannya formulir-formulir lomba pidato. Aurel membuka Map itu dan mencari-cari formulir dari SMA 25. Tak perlu waktu lama untuk mencarinya, Aurel mendapatkan 2 lembar formulir dari SMA 25. Satu formulir bernama  Ramadhan Syawal dan yang lainnya bernama Safa Marwah. Aurel melirik foto yang terpampang pada formulir Ramadhan Syawal. Foto itu mirip sekali dengan wajah pria yang tadi, kemungkinan foto itu di ambil ketika pria itu baru masuk ke SMA nya karena rambutnya di foto itu masih cepak. Aurel memandang sesaat foto itu, anehnya Aurel merasa kedua tangannya menjadi hiperaktif. Dia gugup. *ciciciew* Secret telling smile
‘Duh, Aurel. Jangan lagi-lagi deh lo kaya gini.’ Batin Aurel pada dirinya sendiri, tapi pem-batin-an itu tak membuahkan hasil. Aurel keluar dari ruangan OSIS dengan ritme jantung layaknya musik rock.
Aurel duduk kembali di stand jaganya. Si mas Ramadhan Syawal langsung menghampiri Aurel. Jleb, jantung Aurel hampir putus dan rasanya hanya seutas nadi aorta yang masih membuatnya menggantung.
“Udah nemu, mbak?”
“Er… Namanya Ramadhan Syawal, ya?”
“Iya, itu saya. Temen saya satunya lagi namanya Safa Marwah.”
“Ada, kok, mas. Sudah masuk dalam list kami, soal nomor urut dan lainnya ditentukan pas technical meeting, ya.”
“Oh, iya. Gimana, ya. Saya sih ke sini pengen ketemu sama Haidir, ada yang pengen diomongin soalnya.”
“Soal apa, ya? siapa tau saya bisa bantu?”
“Gini, saya kemaren udah ngomong sama Haidir soal uang pendaftaran lomba pidato ini. Beberapa hari yang lalu, Haidir minta loby ke kami tentang sponsorship ke provider *******************. Sebenarnya sekolah kami sudah ada kerjasama dengan provider itu, tapi karena kami batal menyelenggarakan acara yang di sponsori sama mereka, lalu sponsornya kami limpahkan ke SMA 1. Jadi sebagai gantinya, Haidir menjanjikan beberapa lomba yang gratis biaya pendaftarannya buat kami. Salah satunya lomba pidato ini, mbak.”
Aurel shock. Pertama dia shock karena sama sekali tidak tau mengenai loby-loby antara Haidir dan Ramadhan Syawal. Kedua, dia shock karena mendengar penjelasan itu keluar dari mulut pria yang beberapa menit yang lalu membuat Aurel melayang ke langit karena tatapan matanya. Entah ini korupsi, kolusi, atau nepotisme, Aurel sama sekali tidak bisa manerimanya.
“Maksudnya? Hmm, mending mas Ramadhan nunggu Haidir aja, deh. Paling sebentar lagi dia datang.”
“Oke, deh. Saya duduk di sini, ya.” Dengan sopan Ramadhan meminta izin duduk di kursi yang ada di hadapan Aurel.
“Iya, mas.”
OKESIP. Kemudian Aurel pingsan di pojokan hati di antara tulang rusuk yang hilang.

*lucu sendiri nemu file ini dalam draf posting tanggal 12 maret 2012. kapan-kapan ya pernah nulis yang kaya beginian =))

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang