Friday, November 18, 2011

"Kupu-Kupu" Violet


Violet. Aku tak tau namanya, tapi aku teringat wanita itu setiap kali melihat warna ungu. Kemudian tanpa meminta persetujuan dari siapapun aku mengingatnya sebagai Violet. Dia wanita yang cantik. Istilah zaman sekarang mungkin menyebutnya berbadan 'semok'. Dia mengenakan kaos berwarna ungu dan celana jins. Kulitnya putih mulus, badannya tidak terlalu tinggi, parasnya cantik, rambutnya panjang tergerai. Ya, mungkin saja untuk beberapa detik ketika melihatnya kau akan berpikir dia bidadari yang turun dari langit. Tapi beberapa detik kemudian kau akan menganggapnya bidadari yang menyedihkan.

Violet datang padaku pada suatu pagi yang sepi, ketika aku tengah menyirami tanaman-tanamanku yang layu seperti perawan sendu. Dia menangis, meraung, kemudian turun dari ojek. *Inilah sosok bidadari masa kini. Kau tak akan mendapati bidadari laksana putri Kate Middletone dengan kereta kuda.* Ketika masih berada di atas ojek, dia menangis memintatukang ojek menghentikan motornya. Dia menangis, terus menangis dan meraung. Saat itu aku yakin semalam aku tidak bermimpi hal aneh dalam mimpi ku, jadi mengapa aku mengalami hal aneh seperti ini?

Rentetan kejadian itu sangat ku ingat dengan baik. Violet turun dari ojek sambil mengangis. Dia menanyakan kemana tukang ojek itu akan membawanya? 'Apakah ia polisi yang menyamar?' 'Kenapa Bapak tega menjebak saya?'. Dan aku masih ingat bagaimana reaksi bingung tukang ojek itu. Normalnya ketika seseorang mendapat pelanggan pertama, dia akan menganggap pelanggan itu ibarat berkah.  Dan sepertinya kali ini tukang ojek itu bingung menggolongkan Violet ke dalam berkah jenis apa. Mungkin baru pertama kali ini si tukang ojek bertemu penumpang seperti ini, di pagi hari ketika rezeki pertama didapat. Atau mungkin sudah biasa di dunia per-ojek-an mendapat pelanggan pagi seperti itu.

Cukup lama dialog tanpa ujung yang terulang terjadi antara Violet dan tukang ojek. Pertanyaan membosankan bagi tukang ojek yang hanya berputar tentang kecurigaan Violet pada tukang ojek itu. Hingga akhirnya tukang ojek itu pergi meninggalkan Vioet yang masih menangis. Tega betul tukang ojek itu meninggalkan Violet seperti itu, tega betul dia meninggalkan Violet di halaman rumahku!

Dengan lunglai Violet berjalan menuju teras rumah ku. Tanpa kuminta dan tanpa meminta izin, dia duduk bersimpuh sambil tetap menangis. Tercium olehku kedatangan Violet yang menebar wangi. Tangisan pilunya membuatku menoleh kebelakang. Ku tanya 'kenapa, Mbak?' dan lalu cerita itu mengalir dari mulutnya.

Dia bercerita tentang tukang ojek yang dicurigainya sebagai polisi yang menyamar. Lalu dia menceritakan cerita yang membingungkan. Dia percaya kalau dia dijebak. Semalam dia ingat ketika beberapa orang membawanya masuk ke dalam mobil. Kemudian ketika pagi dia terpisah dengan temannya karena temannya tertangkap. Nampak sekali dia parno dengan polisi, dia berkali-kali menanyakan apakah aku polwan. *hellooo, coba lo liat ody gue!*

Dua jempol. Violet berhasil membuatku kebingungan di hari yang masih sepagi itu. Ku tanyakan dimana dia tinggal, dia menggeleng. Ku tanyakan apakah dia punya HP dan memintanya menghubungi temannya untuk menjemputnya, dia hanya diam. Ku tanya di mana orang tuanya, dia malah memasang wajah bingung. Kemudian kembali dia menanyakan apakah aku ini polwan.

Isakan tangisnya kembali menjadi dia mengeluhkan hidupnya pada Tuhan. Keluar dari mulutnya raungan istigfhar dan keluh kesah. Dia lalu berkata ingin mati, ingin bunuh diri, dan lalu menunjukkan tanda silang bekas luka di lengan kirinya. Dengan galau dia berkata dia sudah pernah mencoba bunuh diri. Tapi setahu ku, kalaupun itu luka yang dia olah untuk bunuh diri, dia tidak akan mati, sayatan itu tidak mengenai nadinya.

Oh, Tuhan, cukup sudah aku mendengarkan rintihannya. Layaknya prajurit yang menyerah angkat senjata, ku serahkan dia untuk ditangani oleh ibu ku. Dan dengan kesaktian seorang wanita dewasa, Ibu ku berhasil menyuruhnya pergi dari rumahku. Berbagai macam dugaan menggeluti kami tentang siapa wanita itu.

Sekian, kalian yang baca silahkan tebak saja siapakah dia sebenarnya.

1 Komentar:

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang