Sunday, August 28, 2011

Hakikat Ramadhan 1432 H (catatan kecil tahun ini)

29 Ramadhan 1432 H

Ramadhan tahun ini hampir usai. Tanpa sadar, keramahan Ramadhan sudah membawa kita pada penghujung bulan penuh berkah ini. Para penceramah biasa berkata kalau  para Alim Ulama sedih ketika bulan Ramadhan berakhir, mereka menangis, berharap Ramadhan ini lebih panjang dan bisa bertemu lagi tahun depan.

He, Nerd smile seingat saya dulu awal-awal puasa zaman SD, puasa tak lebih dari perjuangan menahan lapar dan dahaga mulai imsak sampai bedug magrib tiba + baju lebaran. Tapi tahun ini, Ramadhan punya arti yang lebih dari itu.

Saya hanyalah manusia biasa, dan dasar manusia, harus mendapat cobaan dulu baru dia tahu bagaimana bersyukur. Rasasyukur terbesar saya tahun ini adalah Alhamdulillah dapat melewati hampir satu bulan full bersama keluarga sepanjang hidup saya selama ini (sepanjang tingkat kesadaran saya akan arti ngumpul yang sebenarnya). Inilah hikmah terbesar yang bisa saya petik dari status ‘belum dapat pekerjaan yang pas, tepat, layak, dan menyenangkan’ selama ini. Saya bisa diam mais di rumah, ngumpul sama ibu, adik di kala siang. Buka puasa bersama di kala magrib dan pastinya sahur bersama. Nonton TV dan ngomen-ngomen acara TV. Ayah kerja dan ibu di hari-hari biasa jualan di warung, Iqbal sekolah kadang sampai sore. Di hari-hari biasa kami jarang punya sesuatu yang biasa kita sebut dengan Quality Time. Bayangkan saja kalo misalnya saya diterima di salah satu tempat kerja yang saya lamar, bisa jadi gak bakal dapat kesempatan seperti ini. Untuk seseorang yang berumur 22 tahun, apasih arti keluarga? Artinya tidak akan berkumpul bersama keluarga untuk waktu yang lama lagi. Karena sudah pasti harus berhadapan dengan proses menjadi semakin tua dan kehidupan baru bersama kaluarga baru.

Dan hikmah lain yang didapat adalah pencarian ‘penggetar iman’. Hmmm.. Kadang saya rasa jiwa ini hampa. Setahun belakangan ini saya cukup shock dengan bahan bacaan saya, novel, filsafat, blog salah satu seleb yang cerita kalo kakaknya sudah tiga tahun ini diam-diam menjadi atheis, tafsir Al-quran, dan kemudian dibandingkan dengan realita kehidupan.

Realita kehidupan para penghuni bumi saat ini, apa yang mereka lakukan untuk bertahan hidup di dunia, apa yang mereka sebenarnya tahu tapi mereka acuh, apa yang seharusnya bisa mereka ambil pelajaran tapi tak pernah mereka ambil pelajaran darinya. Saya terguncang dengan keadaan ini, dalam artian sejenis culture shock dengan kesenjangan ilmu agama-realita-filsafat. (dan masih panjang untuk dijelaskan satu per satu)

Agama Islam dengan jelas telah mengatur bagaimana kehidupan seorang muslim. Filsafat mengajari pikiran-pikiran mendalam tentang kehidupan. Kemudian dunia dengan model moderinasasinya berjalan berlawanan arah dengan semua itu.

Saya butuh pegangan untuk melewati semua ini. Ramadhan tahun ini saya senang pergi tarawih, sesekali pergi ke mesjid raya Sabilal ketika ada acara buka puasa diluar. Setidaknya ini membuat saya merasa lebih nyaman karena melihat banyak orang yang masih mengingat Tuhan dan ingin beribadah. Iman yang terasa bergetar ketika mendengar Takbir, Kalam-Nya, Salawat, dan panjatan doa kepada-Nya. Dengan ini saya sandarkan keimanan saya, berhadap Ridho-Nya serta bimbingan-Nya dalam menghadapi kehidupan ini.

Apakah akan bertemu dangan Ramadhan lagi di tahun depan? Wallahu’alam.

0 Komentar:

Post a Comment

 

I see, I feel, I write Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang